|
Pada 10 September 2007, pengusaha Ciputra menyampaikan kuliah perdana tahun akademik 2007/2008 di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Dalam forum ilmiah yang dihadiri 1.000-an civitas akademika (rektorat, guru besar, wali amanat dan mahasiswa pascasarjana),
Ciputra
menyampaikan tema Pentingnya Kewirausahaan dalam Pendidikan Tinggi dan
Pemecahan Masalah Bangsa.
Untuk mengetahui lebih dalam pemikiran entrepreneurship, berikut petikan wawancara
Bisnis dengan Bos Grup Ciputra ini:
Mengapa entrepreneur?
Ada
lima
alasan penting. Kesempatan kerja makin terbatas. Pemda DKI tahun lalu mendapat
39.622 pelamar kerja untuk 950 lowongan. Lalu kemana 38.500 pelamar yang gagal? Ini sama di sektor swasta.
Pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) bukan solusi ideal. Siapa yang senang
berpisah dengan keluarga untuk bekerja kasar di negeri asing? Kita sedih
sekali, ada TKI dihina, diperkosa dan ada yang bunuh diri.
Ini karena sedikit entrepreneur yang bisa menciptakan lapangan kerja di dalam
negeri. Ada sarjana nuklir jualan es krim. Dia terpaksa karena terkena PHK dan
tidak memiliki cukup kecakapan wirausaha.
Bila saat ini memang tak bisa memberikan pekerjaan, kita perlu bekali kaum muda
kemampuan menciptakan lapangan kerja. Entrepreneur tidak hanya menolong mereka
tapi menciptakan kesejahteraan masyarakat. Dan, kehadiran mereka lebih
dibutuhkan dalam pemanfaatan sumber daya alam bagi kemakmuran rakyat, bukan
modal asing.
Apa definisi entrepreneur?
Seorang yang mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Dia memiliki daya
kreasi dan inovasi. Punya pola pikir, kebiasaan, karakter, dan kecakapan dalam
pencari peluang, dan berani mengambil risiko.
Ciri terakhir ini kerap sebagai penentu seseorang jadi entrepreneur atau tidak.
Banyak yang takut rugi, gagal, atau kehilangan jabatan sehingga tak pernah
memulai. Kecakapan atau pengetahuan lain hanya pelengkap.
Berapa wirausahawan lagi dibutuhkan?
Sosiolog David McClelland berpendapat suatu negara bisa menjadi makmur bila ada
entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Singapura sudah 7,2% padahal
pada 2001 baru 2,1%. Sedangkan Indonesia hanya 0,18% dari penduduk atau
400.000-an orang.
Mengapa Indonesia minim?
Ya, karena dijajah terlalu lama. Mereka suka menjadi pegawai dan petani
pekerja.
Kita menghadapi masalah mental?
Semua terkait mental. Maka sekolah entrepreneur selalu pendidikan karakter.
Anda tahu, anggaran pengentasan kemiskinan tahun lalu Rp81 triliun. Sebesar 10%
perlu dipakai untuk pendidikan entrepreneur, sehingga satu generasi kemiskinan
hilang dan Indonesia jadi makmur sejahtera.
Semua orang ngomong target, tapi bila entrepreneurship tidak diajarkan,
semuanya tidak tercapai. Saya berani bertaruh, sejarah yang membuktikan.
Indonesia punya banyak komoditas, mineral dan energi berlimpah tapi bukan
bangsa kita yang mengubah menjadi end product, yang bermutu dan mahal harganya.
Bila tidak ada tambahan nilai oleh bangsa kita, Indonesia tetap miskin. Kita
lihat investasi dari luar negeri, orang kita jadi apa? Buruh!
Manajer dan direktur Medco dan pegawainya semua orang Indonesia, karena
perusahaan itu milik orang Indonesia. Lihat perusahaan asing, direktur dan
manajer kebanyakan orang luar negeri, orang Indonesia jadi buruh.
Pabrik elektronik Indonesia [yang] dimiliki asing, manajer pribumi sama dengan
buruh, tidak bisa ambil keputusan, jadi sales saja. Jangan salahkan investasi
asing, karena masalahnya kita tak cukup punya entrepreneur dan Indonesia butuh
pekerjaan, agar buruh tak menganggur.
Ada mitos pengusaha
sukses harus punya darah pengusaha.
Itu harus dipotong. Itu salah, harus diubah. Saya yakini, untuk menjadi
pengusaha perlu pendidikan. Bila zaman dulu belajar wirausaha dari orang tua,
kini ada sekolah alternatif bagi yang tidak punya orang tua pengusaha.
Bagaimana Anda menjadi entrepreneur?
Saya bisa menjadi entrepreneur, karena orang tua berwirausaha. Anda yang
berpendidikan sama dengan saya tidak menjadi entrepreneur. Ini karena orang tua
Anda bukan pengusaha.
Saat di sekolah juga tak diajari entrepreneurship. Belajar berwiraswasta hanya
lirik kirikanan. Hasrat pada saat itu barangkali ada, timbul sebentar, lalu
tenggelam.
Nah, melalui pendidikan di sekolah dan universitas inilah sebenarnya jiwa
kewirausahaan bisa dibangkitkan melalui pendidikan.
Konsepnya seperti apa?
Ini lompatan kuantum menanggulangi kemiskinan dan pengangguran melalui
pendidikan. Ada tiga hal, yakni pendidikan dasar dan menengah, pengembangan
entrepreneur center di perguruan tinggi dan gerakan nasional pelatihan
kewirausahaan di masyarakat.
Seperti apa entrepreneur center?
Melalui jurusan yang ada, dimasukkan prinsip-prinsip entrepreneur. Bukan membuka jurusan baru. Arsitektur,
hukum dan kedokteran, harus diajari hal ini. Misalnya 1-2 semester saja, yang
penting motivasi. Juga perlu dibuat pelatihan 3 bulan.
Universitasnya sendiri harus menjadi center of entrepreneurship. Bukan hanya
pendidikan. Ini sesuatu yang tidak mudah diterima. Tapi ada contohnya
Universitas Harvard dan Stanford menjadi pusat bisnis dengan aset masing-masing
US$29 miliar dan US$34 miliar. Ini dari pusat usahanya.
Sebagai institusi pendidikan harus punya unit usaha, terdiri dari tiga macam.
Pusat inkubator untuk memulai usaha baru (start-up company) dari hasil riset.
Sekarang riset harus diterapkan di bisnis atau dijual ke masyarakat. Kedua,
bisnis layanan keuangan mikro, dan buat venture capital.
Sejauh mana minat kaum muda jadi entrepreneur?
Luar biasa besar. Saya beri ceramah di UGM hadir 1.000 orang. Demikian juga
nanti di tempat lain. Tidak satu orang pun tidak setuju terhadap gagasan
kelahiran melalui universitas sedari hari ini.
Bisa juga pelatihan 3 bulan in-built, atau karang taruna itu dilatih
keterampilan. Orang menjadi UKM, perlu dilatih intensif baru kasih modal.
Jangan dikasih modal tanpa dilatih. Kami bentuk dewan mentor di UGM, ada 25
orang. Setiap mentor membina satu-dua orang.
Langsung aksi?
Masak sekadar berseminar. Dari Oktober sampai Januari sudah akan lahir 40
entrepreneur di UGM. Gelombang pertama yang dilahirkan Universitas Ciputra
Entrepreneur Surabaya. Mungkin yang jadi 20 orang, tapi mengapa tidak
[dimulai]? Mudah-mudahan gelombang seterusnya akan terus bertambah, di mana
sekaligus dilatih para pelatih UGM sendiri hanya dapat memberi pancing tidak
dapat memberi ikan. Kami yakin memberi pancing lebih baik ketimbang ikan.
Pewawancara: Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis
Indonesia
|