|
Bisnis Waralaba: Tujuh Jurus Sukses: The Untold Story |
|
|
|
|
Persaingan kian sengit. Wajah bisnis kian tak ramah. Maka, kendati Anda membeli suatu waralaba, yang mengklaim sistemnya siap pakai, kalau mau sukses, jangan terlena dan cuma duduk ongkang-ongkang. Ikuti pengalaman terwaralaba yang sukses.
Lina, seorang pelanggan salon
waralaba, tampak kesal. Kunjungan pertama ke salon yang menurut
brosurnya mengutamakan layanan berkualitas profesional ini sungguh
mengecewakan. Sebab, tak hanya proses pemijatan di kepala yang terasa
terlalu keras dan cepat selesai, malah bajunya pun basah kena air saat
rambutnya dicuci. Dalam hati ia mengumpati pegawai yang tidak
profesional, seperti pria yang tadi melayaninya itu.
Lina
tak sendirian. Pakar waralaba Amir Karamoy pun mengaku menerima banyak
keluhan dari para pembeli waralaba (terwaralaba) salon soal kualitas
SDM-nya. Padahal, mereka telah mengikuti pelatihan dari pewaralaba.
Merekrut SDM untuk salon memang tak mudah, ungkap Amir. Itu sebabnya,
lanjut dia, para calon terwaralaba mesti menyiapkan diri menghadapi
hal-hal yang tak terduga.
Selain
itu, untuk sukses berbisnis waralaba, terwaralaba sebaiknya jangan
hanya ikut aturan yang dibuat pewaralaba. Persaingan kian sengit. Rumus
standar tak lagi memadai jika terwaralaba ingin sukses. Mereka harus
mau melakukan upaya ekstra. Apa saja? Sejumlah terwaralabaRiza
Rosalina, Jemmy, Baron Respati, Wingky W. Kushadi, Asep Gosiman, dan
Lukman Hakimternyata mau berbagi kiat suksesnya.
1. Jangan Takut Keluar dari Aturan Baku Sistem yang baku
Itulah
yang biasa ditawarkan para pewaralaba kepada para pembelinya. Namun,
ada baiknya terwaralaba mencoba untuk berkreasi. Inilah yang dilakukan
Riza Rosalina, yang membeli waralaba Sanggar Kreativitas Bobo (SKB) dari Grup Gramedia, tahun 2000 lalu. Dalam paket itu, SKB menyajikan metode pengajaran yang terlalu konvensional.
Merasa
kurang sreg, dokter gigi ini pun melakukan modifikasi. Ia menerapkan
metode active learning. Kebetulan, seorang kawannya sukses menerapkan
metode ini di lembaga pendidikan yang dikelolanya. Agar metodenya
berjalan baik, Riza pun bersikeras memakai ruangan yang lebih luas,
melebihi yang diatur dalam perjanjian waralaba.
Pengalaman
pribadi Riza, 43, juga mendukung perlunya modifikasi. Anaknya kebetulan
bersekolah di sebuah sekolah swasta di Cibubur yang menerapkan metode
active learning.
Sebelum menerapkan metode itu, Riza membuka banyak
buku psikologi tentang anak. Ia juga rajin ikut seminar yang membahas
soal kepribadian anak. Saya tak ingin sekadar menjalankan bisnis. Saya
harus tahu perkembangan setiap anak didik, ujar ibu dua anak ini.
Riza
boleh bersyukur. Kini, hampir semua dari 17 SKB-nya menerapkan metode
active learning, termasuk yang ada di Jl. Pondok Betung Raya No. 48,
Bintaro, Tangerang. Patut dicatat, Riza menjadi satu-satunya pembeli
waralaba SKB angkatan pertama yang sukses. Dua lainnya keburu gulung
tikar.
2. Siapkan Dana Ekstra untuk Promosi
Promosi, entah
berupa spanduk, umbul-umbul, baliho, brosur, buletin, atau iklan radio,
biasanya sudah diatur dalam perjanjian. Begitu juga besarnya anggaran.
Namun, Jemmy tak mau ikut aturan itu. Pembeli waralaba Bread Story
ini bersikeras mengeluarkan dana ekstra untuk promosi. Alasannya, ini
gerai pertama. Jadi, pasti butuh usaha ekstra untuk menarik perhatian
pengunjung. Dan, untuk itu, Jemmy tak mau melulu mengandalkan promosi
dari pewaralaba.
Lalu,
apa bentuk promosi yang digelar pria yang berdomisili di Surabaya ini?
Ia membuat pertunjukan musik dan bahkan badut untuk pembukaan gerai
pertamanya di Malang Town Square. Dampaknya cukup menggembirakan.
Sebagai pembeli pertama waralaba Bread Story, ia berhasil mencapai
break-even point (BEP) sesuai yang dijanjikan pewaralaba.
Sukses
itu membuatnya tancap gas. Ia langsung membuka gerai kedua di Plaza
Marina, Surabaya, dan tahun ini berharap bisa membuka tiga gerai Bread
Story lagi di Surabaya.
Dana ekstra untuk promosi juga dikeluarkan Wingky Waluyo Kushadi, pembeli waralaba kursus pendidikan Primagama.
Untuk menarik minat siswa ke lembaga kursusnya, ia memberikan kupon
undian kepada mereka yang membayar tunai di muka. Kupon itu diundi pada
akhir tahun. Hadiahnya: sepeda motor dan komputer.
Dana
promosi juga ia cadangkan untuk memberikan garansi uang kembali 80%
jika murid Primagama tidak lulus ujian akhir nasional. Ada catatan di
sini, sang murid ini punya angka kehadiran 80% di kelas. Kami mulai
menerapkannya tahun 2004, ungkap Wingky. Itu berarti setahun sesudah
ia membeli waralaba Primagama.
3. Bagaimanapun, Anda Harus Melihat Lokasi Sendiri
Pewaralaba
biasanya yang menetapkan kriteria lokasi gerai waralaba. Pembeli
tinggal duduk manis. Namun, pengalaman berbeda dialami Lukman Hakim,
pembeli waralaba Indomaret. Saat ditawari suatu lokasi oleh Indomaret,
ia tak langsung setuju. Lukman ikut mondar-mandir meninjau lokasi
sampai hatinya merasa sreg. Hasilnya memuaskan. Gerai itu mencapai BEP
hanya dalam waktu 24 bulan. Padahal, Indomaret saja mematok 43 bulan.
Kini, Lukman sukses mengelola empat gerai Indomaret.
Survei lokasi sendiri juga dilakukan Baron Respati. Meski pemilik waralaba Kafe O La La
telah memberikan panduan umum untuk memilih lokasi, toh Baron merasa
perlu melakukan riset sendiri. Sebab, ia punya tiga kriteria dalam
memilih lokasi, yaitu lalu lintas pengunjung, tingkat hunian di gedung,
serta pengelola gedung. Berkat jitu dalam memilih lokasi, jadilah kini
Baron memiliki lima gerai Kafe O La La.
Ia sukses. Gerai-gerainya itu ada di Grha SCTV, Gedung Bank Permata,
Gajah Mada Plaza, Wisma Mulia, dan Graha Paramita (Kuningan).
Ikut memilih lokasi sendiri juga dilakukan Jemmy. Syaratnya, gerai Bread Story-nya harus menjadi pionir alias belum ada pesaing. Kalau sudah ada, jangan harap ia mau buka gerai di sana.
Wingky
Kushadi pun punya kriteria dalam memilih lokasi. Katanya, omzet terbaik
jika lokasi gerai dekat dengan ATM bank. Mengapa? Sebab, tak perlu
biaya pemasaran, kata pria 28 tahun ini sambil terbahak. Saat antrean
panjang di ATM, para nasabah jadi akan melihat gerai Primagama
di situ. Jadi numpang beken, gelaknya, lagi. Berkat pilihan lokasi
yang tetap, kini, dari puluhan gerai Primagama milik Wingky, separonya
telah BEP.
4. Anda Juga Butuh Dana Ekstra untuk Kesejahteraan Karyawan
Di
bisnis waralaba, untuk urusan karyawan, biasanya terwaralaba tinggal
merem. Semuanya sudah diatur, mulai dari pelatihan, kualitas, bahkan
sampai ke gajinya. Cuma, kalau ingin sukses, Anda mesti menyiapkan dana
ekstra untuk urusan SDM ini.
Itulah
yang dilakukan Riza Rosalina. Maklum, dalam bisnis pendidikan, seperti
SKB miliknya, kualitas SDMkhususnya tenaga pengajarsangat menentukan.
Nah, agar mereka tak tergiur pindah ke ladang lain, Riza mesti
mengeluarkan dana ekstra untuk uang makan, kesehatan, dan bonus
prestasi. Papar Riza, Uang makan saya berikan jika mereka pulang lebih
dari pukul 14.00. Sementara urusan gaji (uang per sesi pengajaran),
transportasi, dan tunjangan hari raya ditentukan oleh pewaralaba.
Cara yang sama dilakukan Wingky. Ia menambah jumlah insentif bagi para kepala cabangnya (pimpinan tertinggi di gerai waralaba Primagama).
Sesuai aturan, insentif untuk kepala cabang yang berhasil menarik murid
masuk Primagama adalah 1%. Nah, Wingky berinisiatif menambah menjadi 2%.
5. Jangan Abaikan Lingkungan dan Selera Lokal
Peduli dengan selera lokal dilakukan Baron Respati di setiap gerai Kafe O La La-nya.
Misalnya, ia sengaja membuat tema dan perlakuan berbeda untuk setiap
gerai miliknya. Gerai di Kuningan sengaja ia buat trendi, modern, dan
berbau Perancis. Lalu, gerai di Wisma Mulia yang dekat rumah sakit,
seluruh tampilan dibuatnya bersih. Ia pun memakai dapur berkonsep open
kitchen. Sementara gerai di Bank Permata tampil dengan konsep modern,
yang di Gajah Mada Plaza kental nuansa Tionghoa.
Lain lagi cerita Jemmy. Ia memilih secara selektif varian roti di Bread Story dan menyesuaikannya dengan selera lokal. Alasannya, Antara satu kota dan kota lain, kesukaan masyarakatnya berbeda-beda.
6. Menjadi Pembeli Pertama Jauh Lebih Baik
Banyak
calon investor yang ragu menjadi pembeli pertama sebuah waralaba.
Alasannya, sistemnya belum teruji dan banyak trial and error-nya.
Namun, Baron Respati justru menentang arus. Ia malah bersemangat jadi
pembeli pertama. Sebab, belum ada pesaing, celetuknya. Baron menjadi
pembeli pertama waralaba Kafe O La La tahun 2000. Keuntungan lainnya, sebagai pembeli pertama, ia mendapat harga khusus.
Saat ini, paket waralaba Kafe O La La
ditawarkan dengan harga Rp50 juta oleh pemiliknya. Adapun total
investasi yang diperlukan untuk satu gerai mencapai Rp300500 juta,
termasuk franchise fee.
Riza
juga menjadi pembeli pertama waralaba SKB dari Grup Gramedia. Apa
keuntungannya? Selain memperoleh potongan harga untuk franchise fee, ia
pun mendapatkan pengajar terbaik hasil pelatihan dari pemilik waralaba.
Para pengajarnya mereka persiapkan betul, ungkap Riza, yang masih
tetap berpraktek sebagai dokter gigi di daerah Tanah Kusir, Jakarta.
Selain itu, banyak hal yang bisa dinegosiasikan secara terbuka dengan
pewaralaba. Ini karena mereka pun ingin terwaralabanya sukses.
7. Menyisihkan Waktu Itu Penting
Membeli
sebuah waralaba bukan berarti pembelinya tinggal ongkang-ongkang dan
semuanya akan berjalan sendiri. Kalau mau sukses, terwaralaba harus mau
menyisihkan waktu untuk memantau gerainya. Ini dilakoni terwaralaba Indomaret,
Asep Gosiman. Bahkan, Asep mengaku merasa nikmat jika berada di
gerainya dan tetap mengawasi pegawainya. Manfaatnya? Kalau ada yang
keliru bisa langsung dibenahi, katanya, gamblang. Contohnya, melihat
pegawainya mahal senyum saat melayani pembeli, Asep bisa langsung
menegur.
Lain lagi
cerita Wingky. Selama tiga bulan pertama, ia rajin menunggui gerai
Primagama-nya. Kini, setelah yakin segalanya berjalan baik, Wingky
cukup berkomunikasi dengan para kepala cabangnya.
Kalau Baron, ia
memang menyiapkan waktu khusus untuk mengunjungi lima gerainya setiap
hari. Ia memantau langsung perkembangan omzetnya, sehingga jika terjadi
penurunan ia bisa langsung segera melakukan perbaikan. Selain itu,
ungkap Baron, ia jadi lebih cepat tahu keluhan pelanggan.
Jadi, tak ada cara mudah untuk sukses.
Sumber wartaekonomi.com
|
|
|
INSPIRASI BISNIS
"99.99% Orang mengeluhkan MODAL sebagai ganjalan mereka mulai usaha. Masalah yang sebenarnya adalah: TIDAK PUNYA KEBERANIAN!" Jaya Setiabudi
Visitors Counter
 | Hari ini | 24 |  | Kemaren | 764 |  | Minggu ini | 2992 |  | Bulan ini | 7841 |  | Total | 7842 |
|