Berbisnis harus Belajar dan kerja keras
Deny
Delyandri pemuda berusia 28 tahun, Ayah dari 2 orang putra dan putri
yang lahir di Magelang dari kedua orang tua yang asli berasal dari
Padang. Anak sulung dari dua bersaudara dari seorang Ibu yang
berprofesi sebagai Guru dan ayah karyawan BUMN. Pria yang berlatar
belakang pendidikan dari S1 Teknik Elektro Universitas Andalas, memulai
karirnya sebagai karyawan sebuah PMA di Batam setelah menjadi Sarjana.
Ketika
menjadi karyawan swasta inilah kiprah bisnisnya dimulai pada tahun
2004. Terpicu dari kondisi perusahaan yang sedang turun kapasitas
produksinya, sehingga banyak waktu luang sepulang kerja karena tidak
ada lembur. Maka Deny mempunyai keinginan untuk menambah penghasilan
dari usaha sampingan. Ide ini ternyata mendapat dukungan penuh sang
istri yang mempunyai hobi memasak. Kemudian lahirlah bisnis pertamanya
yakni Usaha Krupuk Udang Aloha. Krupuk yang bahan bakunya dibeli dari
pasar tradisional itu kemudian digoreng oleh sang istri. Setelah
digoreng krupuk itu dibungkus dalam plastik kemudian dipres dengan api
dari lampu minyak tanah. Pekerjaan ini dikerjakan setiap hari sepulang
kerja. Kemudian kerupuk yang sudah dibungkusi disusun dalam keranjang,
dengan menggunakan sepeda motor Deni setiap pagi mengantarkan
krupuk-krupuk itu ke warung-warung dan rumah makan padang sambil
berangkat kerja. Dari hasil memproduksi krupuk udang ini Deni bisa
mendapatkan penghasilan tambahan selain dari gaji di perusahaan
tempatnya bekerja.
Dikarenakan kondisi istrinya yang mulai hamil
muda, Deni berusaha mencari saudara untuk membantunya menjalankan usaha
krupuk udangnya. Ternyata mencari tenaga kerja dari kerabatnya tidak
berhasil didapatkan, sedangkan Deni sendiri masih bekerja sebagai
karyawan swasta sehingga tidak bisa membantu istri sepenuhnya, karena
sebagian besar waktunya tersita untuk pekerjaan kantor, dan kondisi
kehamilan istrinya semakin membesar maka usaha krupuk udang tersebut
terpaksa ditutup setelah 3 bulan berjalan.
Bisnis sambilan kedua
yang dijalani oleh Deni dan istrinya adalah membuat kue klepon. Bisnis
kue klepon ini disuplai ke kantin-kantin perusahaan di
perusahaan-perusahaan di kawasan industri Muka Kuning. Tetapi
dikarenakan usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan keuntungan yang
didapatkan, akhirnya bisnis kue klepon ini pun berhenti ditengah jalan.
Setelah
dua kali mengalami kegagalan dalam berbisnis, tidak menyurutkan langkah
Deni untuk mempunyai usaha sendiri dan menjadi pengusaha. Selanjutnya
Deni membuat bisnis rumah makan Padang, berkat pinjaman dari koperasi
tempat dia bekerja sebesar 10 juta rupiah, rumah makan Padang itu pun
berjalan. Untuk menjalankan rumah makan Padang ini Deni merekrut koki
dan karyawan dengan sistem bagi hasil. Tetapi dikarenakan kurangnya
pengalaman dalam bisnis rumah makan dan lokasi rumah makan yang kurang
strategis, akhirnya rumah makan ini pun tutup dan peralatannya dijual
dengan harga murah untuk mengurangi kerugian.
Semangat Deni
untuk menjadi pengusaha tidak mengendor walaupun kegagalan demi
kegagalan menghantamnya. Deni semakin giat belajar dan mencari
informasi mengenai dunia usaha, mulai dari membaca media-media bisnis,
buku-buku motivasi dan juga CD-CD seminar kewirausahaan. Pada saat-saat
pencariannya itulah Deni menemukan buku Rich Dad, Poor Dad nya Robert
T Kiyosaki, karena provokasi buku inilah Deni semakin giat mencari ide
dan peluang usaha.
Ketika sedang mencari-cari peluang usaha yang
baru ini, Deni menonton CD seminarnya James Gwee dan Rhenald Kasali.
Dilihat begitu banyak peserta yang menghadiri seminarnya para motivator
itu. Dari situlah terbersit ide untuk menjadi penyelenggara seminarnya
para motivator ulung Indonesia atau Event Organizer (EO). Meskipun
belum punya pengalaman sama sekali di bidang per-EO-an. Deni bertekad
mengadakan satu seminar wirausaha dari tokoh terkemuka Indonesia. Atas
nasehat dari salah satu rekannya Deni disarankan untuk menghubungi Pak
Jaya Setiabudi salah seorang pengusaha dan motivator di Batam. Setelah
berkenalan dengan Pak Jaya Setiabudi dan berkonsultasi akhirnya
ditetapkan untuk mengundang Helmi Yahya dan Made Bagiana Edam Burger.
Namun
dikarenakan kurangnya pengalaman dan persiapan untuk menggelar seminar
ini, ditambah lagi kurangnya promosi yang dilakukan, mengakibatkan
peserta yang mengikuti seminar ini tidak sesuai dengan yang ditargetkan
walaupun sudah dibantu sepenuhnya oleh tim Momentum nya Pak Jaya
Setiabudi.
Hasil dari bisnis EO ini pun meninggalkan kerugian
yang cukup besar untuk ukuran Deni, sehingga terpaksa Mobil taksi yang
dibeli secara kredit dan hampir lunas pun di re-finance untuk membayar
hutang-hutang dari seminar diatas. Namun pengalaman menjadi EO itu
merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi Deni diwaktu berikutnya.
Dan Ia pun memantapkan diri untuk keluar dari tempat kerjanya karena
memang hati dan pikirannya sudah terkonsentrasi untuk menjadi
pengusaha. Sehingga dia memilih untuk keluar kerja daripada dia
melaksanakan tanggung jawabnya di kantor tidak sepenuh hati.
Dengan
kondisi tidak mempunyai pekerjaan, harus mencicil hutang mobil yang di
re-finance dan juga harus menghidupi istri dan bayinya yang baru lahir.
Maka Deni memberanikan diri untuk memasukkan proposal untuk menjadi EO
di salah satu mall terbesar di Batam. Gayung pun bersambut pihak mall
menerima dan Deni pun memulai usaha pertamanya sebagai EO setelah
keluar dari pekerjaan di kantor. Dan kesuksesan pun menghampiri Deni
setelah berkali-kali gagal tapi dengan gigih Ia pun tetap melangkah
menyongsong keberhasilan. Kegagalan dianggapnya sebagai proses
pembelajaran diri untuk menjadi orang yang kuat dan tidak mudah
menyerah. Setelah itu Deni mulai membuka usaha yang baru lagi yaitu
membuka E-Course sebuah lembaga pelatihan kewirausahaan bagi
orang-orang yang ingin terjun sebagai wirausahawan.
Disaat yang
bersamaan pun istri Deni yang mempunyai hobi masak-memasak.
bereksperimen untuk berbisnis kue. Terispirasi dari bisnis brownies
milik temannya, Istri Deni pun membuat resep spesial Kek Pisang yang
dikemas dan dimodifikasi dari kue brownies. Dengan pengepakan yang
menarik dan pemberian merek Kek Pisang Villa membuat produknya
terlihat spesial. Ketika bisnis kek pisangnya mulai meningkat maka Deni
pun melepaskan E-course untuk berkonsentrasi mengembangkan usaha kek
pisang Villanya.
Strategi marketing yang dilakukan untuk
meningkatkan penjualan kek pisang Villa adalah dengan cara merekrut
mitra-mitra sebagai distributor. Kondisi masyarakat Batam yang sebagian
besar adalah pekerja di industri maka mitra-mitra pun direkrut dari
setiap perusahaan yang ada di Batam. Mitra yang juga karyawan di
perusahaan itu bertugas untuk mencari pembeli dilingkungan perusahaan
kemudian menginformasikan pesanannya kepada Deni melalui SMS, Kemudian
Deni akan mengantarkan pesanan perusahaan tempat para mitranya bekerja.
Sebuah strategi marketing yang sangat efektif dan saling menguntungkan
antara Deni dan mitra-mitranya. Mitra akan mendapat keuntungan dari
selisih harga jual ke konsumen dengan harga dari Deni, yang rata-rata
keuntungan yang didapatkan mitra sebesar 3 ribu rupiah per kue yang
terjual.
Selain tetap menjalankan bisnisnya Deni tetap menimba
ilmu, terus belajar dan juga tidak kalah penting adalah bergabung
dengan komunitas para pengusaha baik secara offline dan online untuk
memperluas jaringan, sehingga dia cukup banyak mengenal
pengusaha-pengusaha sukses di Batam dan luar Batam. Ini sangat berarti
untuk membuka wawasannya dalam berbisnis. Selain itu dia selalu ikut
memamerkan produk kek pisang Villa disetiap acara yang diselenggarakan
oleh komunitas pengusaha yang diikutinya, sehingga produknya pun
semakin dikenal.
Seiring semakin berkembangnya bisnis Kek Pisang
Villa, Deni mulai menambah investasi untuk peralatan produksi untuk
membuat Kek Pisang mulai dari Oven, mixer dan peralatan lainnya
sehingga kapasitas produksinya semakin meningkat. Jumlah karyawan pun
semakin bertambah, yang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi
orang-orang disekitarnya. Dari segi keunikan rasa tetap dipertahankan
walaupun volume produksinya semakin meningkat, sehingga konsumen tidak
kecewa. Dan untuk memanjakan konsumen Deni dan Istri selalu
bereksperimen untuk menciptakan rasa dan resep baru ,sehingga dengan
lebih banyak inovasi produknya membuat konsumen mempunyai banyak
pilihan rasa. Dari yang sebelumnya hanya 6 rasa, saat ini sudah
tercipta 12 aneka rasa kek pisang yang sangat lezat. Kini Kek Pisang
Villa mempunyai 20-an karyawan dengan omzet lebih dari 75 juta rupiah
per bulannya.
Dari awal memulai bisnis Deni sudah membuat
laporan keuangan bisnisnya dengan teratur dan tertib. Semua transaksi
bisnisnya selalu dilengkapi dengan nota baik pembelian maupun penjualan
sehingga mempermudah dia dalam membuat laporan keuangannya. Dari
laporan keuangan bisnisnya dan transaksi rekening koran di Bank yang
teratur akhirnya bisnisnya dipercaya oleh Bank untuk mengucurkan kredit
ke dalam usaha Kek Pisangnya. Berawal dari perkenalan dengan salah satu
kepala cabang salah satu bank swasta di Batam di suatu acara dalam
komunitas yang diikutinya, bank tersebut mengucurkan kredit sebesar 40
juta rupiah, tanpa agunan hanya dengan menampilkan prospek bisnis yang
bagus dan laporan usaha yang teratur dan tertib. Untuk mendapatkan
kepercayaan dari Bank ini Deni memberikan saran agar selalu membuat
laporan bisnis secara tertib dan teratur serta meningkatkan performa
transaksi di bank sehingga rekening koran bank kita terlihat aktif. Dan
satu lagi berusaha untuk memperkenalkan usaha kita ke bank, maka pihak
bank akan lebih mempercayai bisnis kita, yang nantinya akan menimbulkan
kepercayaan dari bank untuk mengucurkan kreditnya.
Setelah
mendapatkan kredit dari bank, Deni memindahkan bisnisnya dari rumah
dengan menyewa sebuah ruko yang berada di pinggir jalan raya yang ramai
lalu-lintasnya. Sehingga bisnisnya semakin dikenal karena penampilan
billboard yang dipasang ditempat usahanya yang baru bisa dilihat oleh
banyak orang. Selain itu Ia membuat armada pesan layan gratis dengan
dua kendaraan bermotor yang didisain dengan menarik dan menjadi media
promosi berjalan yang sangat efektif. Strategi marketing yang dilakukan
Kek Pisang Villa untuk memperluas pasar dilakukan dengan berbagai cara,
diantaranya dengan melalui promosi dan iklan, seperti membuat billboard
di tempat-tempat strategis, seperti jalan ke bandara udara, di pusat
kota dan simpang jalan yang padat lalu lintasnya. Berkat hubungan
baiknya dengan berbagai pihak, Kek pisang Villa pun diliput oleh media
cetak di Batam dan juga media elektronik, TV lokal dan TV nasional. Hal
ini merupakan daya ungkit yang sangat berarti untuk membuat bisnisnya
semakin berkibar. Beriklan dengan menempelkan gambar produknya di
angkutan umum di Batam pun dilakukan. Dan tak kalah penting adalah
berpromosi di dunia maya seperti membuat website (
http//Oleh-OlehKhasBatam.com dan http//Oleh-OlehKhasBatam.Blogspot.com)
serta mailing list, sehingga produk Kek Pisang Villa bisa dilihat dan
dikenal oleh seluruh dunia.
Strategi bisnis yang dilakukan oleh
Deni untuk memenangkan kompetisi dengan pesaing-pesaingnya adalah
dengan cara, selalu mempertahankan resep dan rasa kuenya agar selalu
khas dan unik, tidak berubah walaupun volume produksinya semakin
meningkat. Selain itu packaging yang eye catching dibuat untuk
menarik konsumen.
Didasari oleh latar belakang kota Batam
sebagai daerah industri, wisata dan kota konferensi internasional
(MICE) maka Deni berusaha memposisikan produknya sebagai Oleh-Oleh Khas
Batam. Untuk menyambut program pemerintah kota Batam Visit Batam Year
2010 Deni menghubungi dan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata kota
Batam agar Oleh-Oleh Khas Batam Kek Pisang Villa menjadi salah satu
ikon kota Batam. Untuk menjadi salah satu ikon pariwisata kota Batam
inilah Kek Pisang Villa membuka cabang lagi di pusat pemerintahan yakni
Batam Center agar lebih mudah dijangkau oleh para wisatawan. Dengan
memposisikan Kek Pisang Villa sebagai Oleh-Oleh Khas Batam akan
memperkuat bisnisnya menjadi salah satu brand dari kota Batam yang
nantinya akan dipromosikan ke seluruh Indonesia bahkan dunia.