|
Di
masa tuanya, Ciputra, pelopor industri properti Indonesia, hendak mengabdikan
waktu dan pikirannya untuk menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneur di kalangan
muda. Sekolah yang didirikannya, dari sekolah dasar hingga menengah atas, kini
mulai menekankan pendekatan kewirausahaan kepada para anak didik sejak dini.
Pada
Universitas Ciputra di Surabaya bahkan dilekatkan moto "The School for
Entrepreneurs". Pak Ci juga tengah bersiap mendirikan Ciputra
Institute Entrepreneurship yang diharapkan menjadi resource center untuk
pembelajaran kewirausahaan. Selain itu, ia telah menelurkan beberapa buku kecil
untuk menyebarkan semangat berwiraswasta.

Lelaki
yang memasuki usia 76 tahun ini mencemaskan kurangnya jumlah wirausahawan di
Tanah Air. Ia meyakini paling tidak 10% orang Indonesia sebetulnya berbakat
menjadi pengusaha dan mampu menciptakan lapangan kerja. Tetapi, karena mereka
tidak tumbuh dalam iklim yang kondusif (pegawai atau profesional dianggap
memiliki masa depan yang lebih aman, misalnya), hanya sedikit yang benar-benar
menjadi pengusaha. Mengutip ahli pendidikan kewirausahaan David McClelland,
dalam salah satu bukunya Ciputra mengungkap setidaknya 2% dari rakyat sebuah
negara harus menjadi entrepreneur agar bangsa tersebut dapat menikmati
kemakmuran.
Belum
lama ini, Andrianto Soekarnen dan Parlindungan Sibuea dari Business-Week
Indonesia mewawancarai Ciputra di kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta.
Sebagaimana biasa, Pa Ci sangat antusias dan bersemangat berdiskusi soal
kewirausahaan. Lelaki dengan sembilan cucu itu masih juga energik dan
berpikiran tajam, buah dari terus bekerja hingga tua. Berikut ini petikan
interviu tersebut.
Apa yang melandasi niat Pak Ci mendorong pengembangan
kewirausahaan?
Untuk
kemajuan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang, kita sangat membutuhkan
penambahan jumlah entrepreneur. Berbagai riset dan studi telah membuktikan
bahwa pertumbuhan jumlah wirausahawan memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan
ekonomi.
Apa saja kegiatan konkret yang
Pak Ci lakukan untuk itu?
Pertama, saya mendirikan Universitas Ciputra yang
memiliki tema utama entrepreneurship. Tujuan kami sangat jelas,
yaitu creating world-class entrepreneurs melalui jalur pendidikan.
Setiap mahasiswa dari jurusan apapun mendapat pembelajaran dan pelatihan
kewirausahaan. Kami mengutamakan praktik lapangan. Yang kedua, kami sedang
menyusun dan menguji coba sebuah pembelajaran entrepreneurship yang
dapat dilaksanakan dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah umum
pada sekolah-sekolah di lingkungan Grup Ciputra. Ketiga, kami tengah
mempersiapkan dan mengkaji pendirian Ciputra Institute Entrepreneurship atau
CIE. Ini adalah sebuah resource center untuk pembelajaran entrepreneurship
bagi dunia pendidikan.
Yang
kerap menjadi pertanyaan, apakah kewirausahaan bisa diajarkan? Atau, ia
sebetulnya bakat bawaan?
Entrepreneurship bisa diajarkan bagi mereka yang
mempunyai bakat. Kalau mereka lahir tanpa bakat, memang susah. Ini seperti
menjadi penyanyi, perlu punya bakat. Masalahnya, di Indonesia, begitu banyak
orang mempunyai bakat terbuang sia-sia karena tidak dididik dengan baik. Saya
kira paling tidak ada 10% orang Indonesia yang berbakat menjadi entrepreneur.
Tetapi, karena tak pernah dididik, dilatih, dan diberi kesempatan; mereka
tidak berhasil menjadi entrepreneur.
Dapatkah
kita mengenali orang berjiwa entrepreneur sejak kecil?
Ada
kalanya sejak kecil sudah terlihat. Ada kalanya ketika dewasa baru terlihat.
Bisa saja ketika sekolah di tingkat dasar ia seperti biasa-biasa saja. Tetapi,
saat dirinya sekolah menengah,
kemampuan entrepreneurship-nya muncul.
Menjadi pengusaha di Indonesia tidaklah mudah. Iklim bisnis tak banyak mendukung. Mendirikan perusahaan
baru saja sulitnya bukan main.
Hambatan
dalam pendirian perusahaan baru memang harus dihilangkan. Apabila
hambatan-hambatan itu hilang, entrepreneur
pemula akan lebih banyak yang mencoba masuk.
Ini pasti akan meningkatkan jumlah entrepreneur
Indonesia. Memang, sekarang ini sangat banyak
hambatan. Tetapi, kita jangan putus asa. Kita harus terus berjuang untuk
memajukan bangsa.
Apa saja problem utama kewirausahaan di Tanah Air?
Sedikitnya terdapat empat masalah. Pertama, informasi tentang profesi entrepreneur belum tersebar merata di tengah-tengah masyarakat. Kedua,
wirausaha belum mendapat penghargaan yang layak sebagai sebuah profesi yang penting dan membanggakan. Ketiga,
tidak banyak orangtua yang memperkenalkan,
mempromosikan, dan melatih entrepreneurship kepada anak-anak mereka. Keempat, masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam sistem perundangan dan peraturan sehingga menghambat proses entrepreneurship. Lalu, ada pula sederet hambatan lain; yakni hambatan
mental, moral, karakter, fisik, tradisi, dan hambatan yang kita ciptakan sendiri seperti birokrasi.
Apa contoh hambatan mental yang Anda maksud?
Sederhana
saja. Kalau sejak kecil tidak ditanamkan bahwa menjadi entrepreneur adalah hebat,
itu sudah jadi mental block tersendiri. Apalagi kalau dikatakan bahwa entrepreneur itu sama dengan penipu, mental block-nyaakan semakin berat. Kalau orangtua atau guru mengatakan jangan jadi
pedagang, itu berbahaya. Kita tabu bahwa ungkapan seperti itu sangat umum di
Indonesia. Lalu, seorang entrepreneur juga
merupakan risk taker. Kalau sejak kecil tidak dibiasakan untuk mengambil risiko, seseorang akan susah pada masa berikutnya. Contoh sederhana risk taking adalah berani
berkomunikasi di depan orang. Ia mesti dilatih
memecahkan masalah sendiri. Ia harus berani menjual. Di sekolah-sekolah kami,
keberanian semacam itu dilatih. Untuk menjadi entrepreneur
yang hebat perlu sebuah proses pembelajaran.
Harus pula diingat bahwa seorang entrepreneur
pada dasarnya
adalah opportunity
seeker. Dalam setiap
masalah, ia selalu punya ide.
Inti entrepreneurship
adalah ide. Anda kerap mengulang ungkapan ini.
Ya. Untuk menjadi entrepreneur,
yang utama adalah ide dan inovasi. Uang akan
menyusul. Saya selalu mengatakan, kalau kita punya ide brilian, uang akan
datang. Saya membangun Jaya Group selama 45 tahun bermula dari tanpa uang.
Dengan Metropolitan Group, selama 35 tahun, juga awalnya tanpa uang. Dengan
Ciputra Group, kini sudah berjalan 25 tahun, juga semula tanpa uang.
Bagaimana kemudian caranya memperoleh kepercayaan orang-orang untuk membiayai ide Anda?
Anda tentu harus mempersiapkan diri dengan ide-ide
cemerlang. Saya datang kepada Pak Marno (Soemarno Sosroatmodjo, ketika itu
Gubernur DKI Jakarta). Saya katakan saya ingin membangun Kota Jakarta. Waktu itu saya baru tamat kuliah dari ITB. Saya mulai dengan proyek Senen. Saya langsung membuat studi. Untuk mengatasi kebutuhan uang, kami mengajak
berbagai pihak, seperti Hasyim Ning, untuk berpartner.
Begitu pula dengan proyek Ancol.
Saya datang ke Bang Ali (Ali Sadikin, Gubernur DKI waktu itu) untuk
meyakinkan dia. Ia katakan, "Ayo, join dengan saya." Padahal, waktu
itu saya tak punya uang. Tetapi, saya melihat opportunity.
Mulanya kami membuka
tempat rekreasi sederhana. Namanya Binaria. Dari income di situ, kami mulai membangun
sarana rekreasi, industri, dan perumahan. Begitu pula ketika saya membangun Metropolitan Group. Saya datang ke Om Liem (konglomerat
Liem Sioe Liong). Saya ajak dia membangun Pondok
Indah. Mulanya ia
tak mau. Saya minta ia meminjamkan uang dan menawarkan join fifty-fifty. Dari hasil
usaha, saya bayar utang itu.
Jadi, kalau Anda punya ide cemerlang, banyak investor akan datang. Awalnya Anda mampu membuat dua ekor kambing kecil menjadi lima ekor. Dengan modal kemampuan itu, Anda bisa datang ke bank untuk meminjam uang. Anda yakinkan mereka bahwa Anda bisa
menjadikannya puluhan ekor. Setelah diberi pinjaman bank, Anda akhirnya bisa
menernakkan kambing menjadi ribuan ekor.
Apakah semua orang punya akses seperti Anda, misalnya untuk bertemu Bang Ali atau Om Liem?
Semua orang bisa diakses. Tergantung kemampuan
Anda. Yang menentukan berhasil atau tidaknya adalah Anda sendiri. Kalau Anda
sendiri takut, tak percaya diri, tidak bersemangat, dan tak mau ambil risiko,
ya susah. Hal ini berulang kali saya katakan kepada para mahasiswa.
Dikutip dari
BusinessWeek Indonesia, Januari 2007
|