|
"Saya ini seperti pisau yang jelek tapi diasah terus sehingga bisa jadi
tajam,"sebut sesosok pria yang kini enam hari sekali menjumpai pemirsa
di stasiun Trans7 melalui program Empat Mata. Mudah ditebak, sosok itu
adalah Tukul Arwana. Banyolan yang khas, tepuk tangan ala monyet,
bahasa inggris yang kacau, kepolosan dan penampilan konyol yang menjadi
trade mark-nya, mampu mengantarkan pria bernama asli Tukul Riyanto ini
mencapai puncak keemasannya.
Tukul
kini boleh jadi telah menjadi semacam ikon atau simbol orang desa yang
mampu 'menaklukkan' kota. Pengakuannya sebagai orang kelahiran desa,
dengan tingkah laku yang kampungan, slapstik, seakan menjadi
simbolisasi kesuksesan yang benar-benar dimulai dari bawah. Maka, tak
heran, ia dianggap mampu menjadi representasi kebanyakan orang yang
ingin sukses. Inilah yang membuat banyak orang mau antri untuk datang
ke acaranya, selain tentu untuk menikmati banyolan-banyolannya.
Perjuangan
kelahiran Semarang 16 Oktober 1963 ini memang sangat panjang dan
berliku. Untuk mendapatkan kesuksesan seperti saat ini, Tukul harus
berjuang dari panggung ke panggung. Menurut pria yang sudah suka
melawak di panggung 17 Agustusan sejak kecil ini, proses adalah bagian
terpenting dalam hidupnya. "Saya sudah kenyang diremehkan, dicaci, dan
dicibir. Saya jalan dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu
panggung ke panggung yang lain. Dan inilah yang sekarang saya terima,"
kata bapak satu anak yang sering menggambarkan dirinya sebagai hasil
dari kristalisasi keringat itu.
Menurut mantan sopir
omprengan, kru shooting video, sopir pribadi, dan penyiar radio ini,
kunci sukses yang utama pada dirinya adalah menikmati kelemahan dalam
diri, dan mengubahnya menjadi berkah. "Makanya saya nikmati saja
diolok-olok, dijelek-jelekkan, wong malah itu yang menghidupi saya
sekarang." Selain itu, Tukul juga menyebut sejumlah nama, selain
istrinya, yang turut memberi andil pada suksesnya. Beberapa di
antaranya yaitu Joko Dewo dan Tony Rastafara yang pertama kali
mengajaknya melawak ke Jakarta. Ia juga menyebut Radio Humor SK dan
kelompok lawak Srimulat sebagai prosesnya memperkaya materi lawakan.
"Saya bisa mencapai ini semua berkat bantuan banyak orang juga," ujar
pria yang kini sering mengundang beberapa orang yang dianggap berjasa
pada karirnya, untuk ikut tampil di Empat Mata.
Kini, boleh
jadi Tukul telah jadi pelawak paling mahal di Indonesia. Konon,
tarifnya sekali manggung mencapai Rp30 juta. Padahal, untuk acara Empat
Mata, ia sudah mengantongi kontrak hingga 260 episode. Jika ditotal,
plus honor jadi bintang iklan beberapa produk, pendapatannya per tahun
miliaran rupiah. Sebuah motor Harley Davidson kini juga menjadi simbol
kesuksesan yang sudah diraihnya. Rumahnya pun ada beberapa, sebagian
dikontrakkan untuk menambah pundi-pundi simpanan masa tuanya. Bersama
mantan majikannya, ia juga berencana untuk membuka restoran.
Namun,
mendapat kelimpahan rejeki demikian banyak, Tukul tak melupakan
asalnya. Karena itu, demi membantu rekan-rekan sesama pelawak yang
belum sukses, ia membelikan beberapa motor untuk dijadikan sarana ojek
bagi rekannya. Selain itu, ia menyediakan satu rumah khusus untuk
dijadikan tumpangan rekannya selama di Jakarta. Rumah yang dinamai
Posko Ojo Lali itu juga dijadikan ajang tukar pikiran dan meramu ide
kreatif lawakan. Selain itu, saat ini ia juga ingin merealisasikan
sebuah program acara untuk mengakomodasi teman-teman pelawak yang belum
berhasil. "Banyak pelawak yang potensial, namun belum terangkat. Saya
yang sedang di puncak ingin mereka juga bisa berhasil," harap Tukul.
Perjuangan
Tukul dari nol adalah sebuah gambaran ketekunan dan keuletan yang perlu
kita contoh. Keyakinannya yang kuat untuk menjadi pelawak terkenal,
ditambah kemauannya belajar banyak hal, telah menjadikannya sebagai
ikon orang desa yang bisa menaklukkan kota. Perhatiannya kepada sesama
rekan pelawak yang belum sukses juga patut diteladani. Dengan begitu,
apapun bentuk kesuksesan yang kita raih, bisa lebih bermakna bagi
sesama.
Dennie
|