|
PROBLEM menganggur bagi sarjana masih menjadi momok. Mereka akan
berbondong-bondong untuk memburu kesempatan kerja ketika lowongan
pekerjaan dibuka. Padahal, kesempatan kerja menjadi pegawai, baik di
swasta maupun pegawai negeri sipil (PNS), tentu sangat terbatas.
Seringkali sangat tidak seimbang antara jumlah peminat dengan kapasitas
daya tampung.
Pengumuan penerimaan calon PNS tiap tahun selalu dibanjiri para pemburu kerja, terutama para sarjana.
Masalah selalu berulang; ketika akan kuliah sudah berhadapan dengan
kompetisi meraih tiket kursi kuliah di perguruan tinggi (PT). Dengan
berkesempatan mengenyam kuliah di PT yang diidamkan, akan lebih mudah
memperoleh pekerjaan, tanpa bersusah payah berkompetisi. Tetapi saat
atribut sarjana sudah didapat, ternyata mereka dibelit dengan persoalan
lapangan kerja. Akhirnya sarjana hanya menjadi bagian dari antrean
beban angkatan tenaga yang bertambah setiap tahunnya.
Menurut data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2006,
jumlah pengangguran terbuka mencapai 11,104,693 orang. Pengangguran
yang tidak lulus atau lulus sekolah dasar (SD) mencapai 3,524,884
orang. Lulusan sekolah menengah pertama (SMP) sebanyak 2,860,006 orang;
lulusan sekolah menengah atas (SMA) sebanyak 4,047,016 orang. Lulusan
akademi/diploma sebanyak 297,185 orang, dan jumlah sarjana yang masih
menganggur berjumlah 375,601 orang.
Menurut Koordinator Tim Peneliti Prospek Perekonomian Indonesia 2007
Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, M Tri Sambodo, angka pengangguran baru
pada 2007 akan bertambah 1,6 juta orang, yang tentu di dalamnya
termasuk lulusan PT.
Tingginya tingkat pengangguran yang dialami oleh para lulusan PT
menandakan bahwa para sarjana masih menjadi problem dan penambah beban
berat angkatan kerja. Problem itu hendaknya menjadi perhatian semua
pihak, baik oleh PT maupun alumnus, dan semua pihak yang memiliki
kepentingan bagi masa depan anak bangsa dalam rangka ikut mengatasi
angka pengangguran, terutama pengangguran terdidik.
Para sarjana yang terjun ke masyarakat lebih memilih mencari pekerjaan
dengan menjadi pegawai swasta atau negeri daripada bersusah payah
membuat pekerjaan untuk dirinya sendiri.
Orientasi tak mau bersusah payah dan meraih kesuksesan secara instan
telah menjangkiti angkatan kerja usia produktif. Dampak dari
perkembangan dan kemajuan teknologi yang membuat manusia mudah untuk
memperoleh kebutuhan, ternyata berdampak kepada rendahnya mental untuk
berusaha dan bersusah payah ketika problem kehidupan mereka alami.
Karena itu, perlu ada satu kesadaran kolektif dalam upaya mengatasi
problem ketenagakerjaan, terutama para sarjana sebagai tenaga kerja
terdidik.
Karakter Wirausahawan
Salah satu upaya untuk mengatasi dan mencegah pengangguran bagi
kalangan terdidik, terutama para sarjana, adalah perlu secara serius
mempersiapkan generasi sarjana enterpreneur (wirausahawan).
Menurut Ir Ciputra, pendiri Universitas Ciputra, bangsa Indonesia perlu
melakukan lompatan kuantum untuk menanggulangi masalah pengangguran dan
kemiskinan dengan menerapkan pendidikan kewirausahaan.
Dengan demikian akan tercipta generasi sarjana pencipta kerja, bukan
pencari kerja, sehingga potensi kekayaan alam yang dimiliki dapat
dimanfaatkan untuk mencapai kemakmuran bangsa.
Pendidikan kewirausahaan bukan semata-mata untuk kepentingan dunia
bisnis, melainkan setiap lapangan pekerjaan yang memiliki semangat,
pola pikir, dan karakter enterpreneur akan membuat perbedaan,
perubahan, dan pertumbuhan positif dalam profesi dan pekerjaan mereka
di luar bidang dunia bisnis. Jiwa enterpreneur akan memiliki daya
kreatif dan inovatif, mencari peluang dan berani mengambl risiko.
Pendidikan enterpreneur akan memberikan karakter para sarjana memiliki
mental dan moral yang kuat, jiwa kemandirian, dan sikap ulet (tahan
banting), pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, serta mampu
mengahadapi persaingan global.
Dengan sikap kreatif, mandiri, ulet, dan didukung dengan karakter yang
baik, maka para sarjana akan mampu mengatasi problem dirinya sendiri.
Bahkan bisa memberikan kontribusi dalam ikut memecahkan problem
kehidupan yang dihadapai oleh masyarakat.
Menurut Ciputra, dengan mengutip ahli sosiologi David McCelland
(Kompas, 24/10), suatu negara bisa menjadi makmur bila memiliki
sedikitnya dua persen enterpreneur dari jumlah penduduk tersebut. Dari
data statistik, saat ini di Indonesia baru memiliki 0,18 % enterpreneur
atau sekitar 400,000 dari penduduk Indonesia yang berjumlah kurang
lebih 220 juta jiwa.
Dalam lingkup yang berbeda, Dr Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo, yang
belum lama ini mempertahankan disertasinya tentang "Signifikansi Peran
Manajemen Kewirausahaan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah" di Pasca
Sarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta dengan memperoleh predikat
cumlaude, menyatakan bahwa manajemen kewirausahaan sangat signifikan
menentukan kinerja pemerintah daerah (Suara Merdeka, 28/10).
Dalam paradigma sistem kewirausahaan, pemerintah diajak untuk tidak
mengutamakan sistem dan prosedur, tetapi lebih beroreintasi kepada
kinerja dan hasil kerja dengan mengutamakan jiwa dan semangat
enterpreneurship.
Seorang pemimpin daerah juga harus mampu menciptakan lingkungan kerja
yang kondusif, sehingga prestasinya bisa dinikmati oleh masyarakat.
Agaknya, jiwa kewirausahaan sudah harus menjadi bagian dari desain
utama (grand design) dalam kurikulum pendidikan di PT. Melihat
timpangnya antara kesempatan kerja dengan jumlah angkatan kerja yang
membengkak tiap tahun, perlu upaya serius dari dunia pendidikan,
terutama PT, untuk ikut membekali para mahasiswanya dengan pendidikan
kewirausahaan.
Jika para sarjana memiliki sikap dan mental kemandirian yang
ditumbuhkan melalui pendidikan kewirausahaan, maka tidak canggung lagi
setelah terjun di masyarakat. Seandarinya satu orang sarjana bisa
menciptakan lapangan pekerjaan untuk satu orang saja, maka paling tidak
problem pengangguran dapat berkurang dua orang.
Ribuan sarjana yang menciptakan lapangan pekerjaan masing-masing
sebanyak satu orang, maka dua kali lipat dari ribuan tersebut, beban
pengangguran akan teratasi.
Angkatan kerja dengan tingkat pendidikan sarjana seharusnya sudah tidak
lagi menjadi problem ketenagakerjaan di Indonesia. Sebab, dengan
tingkat pendidikan yang memadai seharusnya sarjana menjadi kontributor
untuk memecahakan problem ketenagakerjaan. Paling tidak, para sarjana
tidak semata-mata berorientasi untuk menjadi pegawai, terutama PNS,
karena menjalani pekerjaan terhormat tidak hanya menjadi pegawai dan
atau PNS.
(Oleh Zamhuri )
|