|
Jika anda tersesat disuatu tempat. Dimana disana tidak ada manusia
lain selain anda. Siapa yang bisa anda andalkan untuk menolong diri
anda? Mungkin, karena saya termasuk orang iseng saja, sehingga
mengemukakan pertanyaan janggal macam itu. Seorang sahabat yang saleh
berkata; "Saya masih memiliki Tuhan untuk menolong." Sungguh sebuah
jawaban yang hebat. Lalu pertanyaan saya berikutnya; "Seandainya
Tuhan bersabda; `wahai jiwa yang tengah tersesat, tidak bisakah kamu
mencari pertolonganmu sendiri' apa yang akan anda katakan kepada
Tuhan?" Lalu, teman saya mengatakan bahwa Tuhan itu telah berjanji
akan mengabulkan setiap permintaan.
Jadi, tidaklah mungkin ketika
kita memohon pertolongan, Dia malah menyuruh kita untuk mencari ke
tempat lain. Saya mulai tersadar, bahwa mungkin memang Tuhan itu
tidak iseng seperti saya. Apakah Anda juga berpikiran demikian?
Sesaat setelah saya memposting artikel itu, saya meminta istri saya
untuk membacanya. Saya bilang padanya; "Aku menyebut-nyebut istriku
diartikel kali ini. Jadi, kamu harus membacanya
" Seperti yang anda
kira, dia sangat termotivasi sekali untuk membacanya dari awal sampai
akhir. Maklum, dia perlu tahu apa yang dituliskan suaminya ini
tentang dirinya diartikel itu. Ketika membaca tentang `motivator
sejati itu adalah orang yang paling dekat dengan diri anda' dia
berhenti, dan segera melompat kearah saya. Lalu berkata; "Tuch kan
Yah, ada motivator yang seperti itu," katanya.
"Siapa?" saya balik menantangnya.
"Ya tentu saja orang yang menikahinya
" balasnya dengan tanpa basi-
basi.
"Baiklah," saya bilang. "Sekarang, teruskan dulu membacanya." Dia
kembali kelayar monitor. Dan ketika dia menemukan bahwa `istri'
atau `suami' bukanlah sumber motivasi utama yang saya sarankan, dia
kembali membelalakan matanya. "Memangnya aku tidak bisa menjadi
motivator buat kamu?" katanya. Anda tahu kan raut wajah seorang
perempuan cantik kalau sedang kesal pada suaminya.
"Bisa iya." Saya santai saja. "Bisa juga tidak."
"Maksud eloooh?" Matanya sudah belo bahkan sebelum dipelototkan.
"Jika suamimu sedang bisa menyenangkan hatimu," kata saya, "maka dia
akan menaikkan semangat hidupmu. Tapi," saya melanjutkan, "ketika
kamu sedang kesal sama suamimu yang keren ini
." Saya tidak usah
melanjutkannya. Dia sudah mengerti bagaimana rasanya ketika dia
sedang sebel banget sama saya. "Anak-anak juga demikian." Itu saja
yang saya tambahkan.
Saya mencoba mengajaknya untuk memahami bahwa sungguh sangat penting
untuk bisa menjadi seorang self-reliant. Sebab, meskipun anda tidak
akan pernah tersesat seperti orang malang yang saya ilustrasikan
tadi; namun ada banyak situasi dimana kita sungguh-sungguh tidak bisa
mengandalkan siapapun kecuali diri kita sendiri. Para atasan kapan
pun bisa memecat kita. Meskipun pada saat itu sesungguhnya anda
sedang sangat membutuhkan pembelaan darinya. Bawahan kita bisa kapan
saja meninggalkan anda. Meskipun ketika itu anda sedang sangat
membutuhkan tenaganya. Dan seorang suami, bisa pergi meninggalkan
sang istri tanpa sebab yang bisa dimengerti hati. Seperti halnya
seorang istri bisa menyebabkan hati seorang suami hancur berkeping-
keping. Anak-anak juga begitu. Sehingga, guru saya sewaktu kecil dulu
mengatakan bahwa; "anak dan istri/suami itu adalah salah satu bentuk
batu ujian bagimu".
Sahabat saya bekata; "Kamu terlalu percaya diri."
Saya bilang; "Jika saya terlalu percaya diri, saya tidak akan pernah
mau berteman denganmu. Karena saya tahu bahwa tanpa kamupun saya bisa
mengerjakan semuanya. Tapi, coba kamu lihat," saya melanjutkan, "saya
menjadikanmu sebagai partner seperti halnya kamu menjadikan saya
pasangan kerja, bukan?"
Self-reliance sama sekali bukanlah kata ganti dari egocentric. Self-
reliance adalah gambaran tentang sejauh mana diri anda bisa
diandalkan tidak peduli apakah anda sedang sendirian ataupun berada
ditengah-tengah sekumpulan manusia yang saling bekerja sama. Self-
reliance, adalah. Bahan dasar dari terbentuknya kemampuan kita yang
bisa diandalkan. Baik sebagai individu. Maupun. Bagian dari sebuah
team. Mungkin anda mengira bahwa saat kita berada dalam sebuah
kelompok, tidak memiliki sifat self-reliance pun tidak apa-apa. Jika
demikian, anda sudah mesti segera mengubah paradigma itu. Sebab,
sebuah team yang efektif hanya bisa terbangun jika SEMUA anggota team
itu adalah orang-orang yang self-reliant. If not? Orang itu hanya
akan menjadi benalu. Maaf, tapi anda boleh menggunakan sebutan lain
jika ada yang bisa menggantikan kata benalu.
Seseorang datang kepada saya dan mengeluhkan tentang teman satu
teamnya. Dia mengatakan bahwa semua aturan main dan tugas masing-
masing anggota team sudah dijelaskan. Ada juklaknya. Ada rule-nya.
Ada reward-nya. Ada punishment-nya. Tapi, temannya yang satu itu
tetap saja tidak bisa mengikuti juklak itu kecuali harus dituntun.
Saya bilang; "Apa salahnya menuntun orang yang sedang melintasi
proses pembelajaran?"
"Aduuh, cape Dang!" sanggahnya. "Semakin hari, dia malah semakin
menggelayuti orang-orang diteamku. Sekarang tak seorangpun mau
menolongnya lagi" katanya.
"Nape, emang?" saya menggodanya.
"Gila, apa? Emangnya orang-orang nggak ada kerjaan lagi, eh!?"
Kedengarannya, ini merupakan cerita lama yang terjadi nyaris disemua
organisasi ya? Tentu saja. Karena, kita kadang-kadang tidak
mempercayai bahwa self-reliance itu harus dimiliki oleh setiap orang.
Memang kita butuh pertolongan orang lain; tapi, pada saat kapan? Saat
ini? Atau saat itu? Atau saat ini dan saat itu? Jika anda mengira
bahwa orang-orang disekitar anda akan SELALU ada untuk anda; hati-
hatilah. Bisa jadi anda akan sampai kepada suatu situasi dimana orang
lain itu tidak ada untuk anda. "Tapi, orang itu bilang akan selalu
ada untuk saya!" mungkin anda berkilah begitu. Hey, anda terdengar
seperti seorang gadis remaja yang terkena rayuan gombal monyet jantan
usia belasan.
Baiklah. Tapi, mungkin anda perlu menyepakati perkataan saya ini:
Tidak ada ruginya jika kita bisa mengandalkan diri sendiri.
Setidaknya, itulah yang saat ini tengah saya upayakan untuk diri saya
sendiri. Sebab, saya masih teringat pelajaran berharga yang
disampaikan oleh Master Oogway kepada Shifu. Ketika beliau hendak
meleburkan diri dengan udara untuk selamanya menyatu dengan alam
semesta, Shifu berusaha mencegahnya. Dan berkata; "Master, Bagaimana
aku melakukannya jika engkau pergi?"
Kemudian Master Oogway berkata; "Kamu tidak membutuhkan aku, Shifu.
Karena kamu memiliki segala kemampuan itu....." katanya. "Ditahap
ini, kamu hanya butuh memberi dirimu sendiri kepercayaan yang lebih
besar." Lalu tubuh Master Oogway larut dalam partikel-partikel udara.
Kemudian beterbangan menuju langit tinggi. Untuk menapaki singasana
keabadian.
Anda tentu masih ingat bahwa dihari sebelumnya Master Oogway
menjelaskan bahwa `kerendahan hati adalah salah satu tanda dari
seorang ksatria'. Sehingga, dengan nasihatnya dihari ini kepada
Shifu, beliau menasihatkan dua hal yaitu; (1) Kerendahan hati, dan
(2) Kepercayaan kepada diri sendiri. Mengapa Master Oogway
menasihatkan kedua hal itu? Karena, keduanya berfungsi seperti kedua
kaki bagi Pemberdayaan diri. Kerendahan hati itu seperti kaki kiri.
Sedangkan kepercayaan bagaikan kaki sebelah kanan. Dengan
kepercayaan, anda memberi diri anda sendiri kesempatan untuk
menunjukkan siapa diri anda yang sesungguhnya. Mengijinkannya untuk
menggapai derajat tertinggi dari setiap pencapaian yang mungkin
diraihnya. Sedangkan, dengan kerendahan hati; anda menjaga kesucian
pencapaian-pencapaian yang diraihnya. Agar anda. Tidak seperti balon
gas. Yang terlepas dari genggaman. Melayang-layang tidak karuan. Dan
terhanyutkan oleh perasaan lupa diri yang menyesatkan.
Kita tidak dapat berdiri tegak. Berjalan. Kemudian berlari kencang
jika kaki kita hanya sebelah. Apalagi jika kita tidak memiliki
keduanya. Kita tidak bisa menjadi manusia yang terberdayakan jika
tidak memiliki kerendahan hati. Sekalipun mempunyai kepercayaan
kepada diri sendiri, tapi kita hanya akan menjadi manusia hebat yang
lupa diri. Kita tidak bisa menjadi manusia yang terberdayakan jika
tidak memiliki kepercayaan kepada diri sendiri. Sekalipun mempunyai
kerendahan hati, tapi kita hanya akan menjadi manusia gemulai tanpa
pencapaian yang berarti. Apalah lagi jika kita tidak memiliki
keduanya?
Dengan berbekal kedua nasihat itu Shifu mulai menegakkan badannya
untuk tetap berdiri tegak. Dan menguatkan hatinya untuk terus teguh
bertekad. Yang meskipun susah payah. Akhirnya. Dia Berhasil.
Melakukannya.
Bisakah kita?
Dadang Kadarusman
|