|
Bicara waralaba ayam bakar, ingat Wong Solo. Berdebat tentang
Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Malah dalam banyak
hal, nama lelaki ini lebih beken ketimbang rumah makannya. Maklum,
keberaniannya membuat acara Poligamy Award di suatu hotel beberapa
waktu lalu, menimbulkan pro dan kontra. Apakah ia kebablasan dalam hal
personal branding? Tunggu dulu. Ternyata, menurut pria kelahiran Solo
46 tahun lalu ini,
apa yang ia lakukan memang disengaja. Kok bisa?
Saya
harus menciptakan konflik terus-menerus di benak orang supaya orang
membicarakan saya, ujar Direktur PT Sarana Bakar Diggaya ini
blakbalakan. Bahkan ia mengungkapkan, jika perlu, ia membayar orang
untuk mendemo dirinya sendiri. Tujuannya, supaya orang selalu
membicarakan dirinya tanpa henti dan polemik menjadi panjang.
Contohnya, isu poligami.
Bagi Puspo, apakah orang membicarakan hal
positif atau negatif, untuk tahap awal bukanlah masalah. Yang penting,
setiap saat orang membicarakan dirinya. Hal ini, dikatakannya, penting
untuk bisnisnya. Ketika orang membicarakan Puspo, itu berarti
membicarakan Wong Solo, ujar suami dari empat wanita ini. Ia yakin,
jika orang kenal Puspo, yang bersangkutan akan men-deliver hal itu ke
Wong Solo.
Bagaimana Puspo bisa melakukan ini semua?
Diceritakan, ketika pada tahun 1993 memulai bisnis ini, ia belum
seterkenal sekarang. Ia memulai perjalanan usahanya dengan modal Rp.
700 ribu. Waktu itu orang mengenalnya hanya sebagai pedagang kaki lima
di Bandara Polonia, Medan.
Namun suatu hari pada 1996, Koran daerah
Medan, Waspada menulis seputar dirinya. Judulnya, Puspo Wardoyo,
Sarjana Membuka Ayam Bakar Wong Solo di Medan. Sejak itu, bisnis rumah
makannya sukses besar. Omsetnya naik 300%-400%. Dari sini saya sadar
dampak pemberitaan, ujar mantan guru SMA di Bagansiapi-api, Sumatera
Utara ini. Dan ia pun mulai mendekati pers.
Setelah cukup
dekat dengan kalangan pers. Puspo mulai memahami cara kerja dunia pers.
Antara lain, penting isu dalam pemberitaan. Sejak itu, ia mulai
menciptakan isu atau konflik yang berkenaan dengan dirinya. Isu atau
konflik itu penting supaya media mau memberitakannya, tanpa kita
memintanya, ia menjelaskan. Isu-isu yang dibuatnya haruslah mengandung
unsur tidak bermasalah. Malah kalau bisa, dengan isu tersebut, ia
menjadi pahlawan. karena seorang pionir adalah seorang pembuka, dan ia
bisa disebut pahlawan, katanya. Target besarnya adalah bagaimana
mempromosikan bisnis.
Tentang sosok pahlawan ini, Puspo
mencontohkannya dalam hal poligami. Ia memfigurkan dirinya sebagai
pahlawan poligami. Sekaligus sebagai pengusaha rumah makan yang sukses
dan andal. Di sini ia ingin meruntuhkan mitos bahwa poligami itu tabu.
Isu
yang diluncurkan, antara lain sewaktu mendapat penghargaan
Enterprise-50. Lalu, saat menerima penghargaan sebagai Waralaba Lokal
Terbaik dari Presiden RI Megawati. Dan terakhir yang bikir geger
Poligamy Award. Tak tanggung-tanggung, dana tak kurang dari Rp. 2
miliar dikucurkannya untuk acara ini.
Tentang isu poligami,
Puspo berujar, Ini positif dan paling efektif. Karena ada kebenaran,
tapi tak semua orang berani mengungkapkannya. Toh, ia melihat, dari
sisi agama, apa yang dilakukannya tak melanggar aturan. Ia sadar,
banyak orang yang setuju dan banyak juga yang tak setuju. Ketika orang
bicara poligami, tak akan pernah tuntas, ujarnya. Hal itu, ia
menambahkan, akan memunculkan konflik di antara mereka.
Puspo
mengakui ia sangat terkesan dengan isu Poligamy Award. Karena, setelah
acara tersebut diselenggarakan, banyak sekali tanggapan dari
masyarakat. Ini puncak promosi saya, ujarnya bangga. Diakuinya, ini
isu yang paling berat dan seru yang pernah diluncurkannya. Karena isu
ini melawan arus, tambahnya. Isu-isu tersebut ternyata tidak dibuatnya
sendiri. Ia membentuk sejumlah tim. Tim yang terdiri dari para wartawan
ini tersebar di beberapa kota, antara lain Jakarta, Badung, Surabaya,
Solo, Malang, Bali dan Medan. Namun, ia tak menyerahkan pembuatan isu
begitu saja kepada timnya. Semua tetap di bawah kepemimpinan saya,
katanya. Dua minggu sekali ia mengadakan rapat untuk menetapkan isu
dalam satu bulan.
Hasil evaluasinya saat ini menunjukkan,
nama Puspo Wardoyo sudah dikenal banyak orang. Adapun dari sisi bisnis,
ia merasa relatif berhasil. Saat ini sejumlah rumah makan di berbagai
kota besar dimilikinya. Sejumlah proposal kerjasama juga terus mengalir
ke mejanya. Namun, kalau dibandingkan dengan rumah makannya, ia
mengakui namanya cenderung lebih popular ketimbang Wong Solo. Itulah
sebabnya, agar seimbang, kini ia mengupayakan agar nama rumah makannya
kian dikenal. Karena hal itu, beberapa langkah kini digodoknya.
Caranya? Membuat sejumlah isu baru! Pertama, isu yang berisikan pesan
bahwa dirinya adalah sosok yang baik, sabar, penuh kasih sayang dengan
keluarga, dan dermawan. Saya ingin colling down setelah kasus Poligamy
Award, untuk meraih simpati, ujarnya terus terang. Berikutnya, fokus
pada product branding. Sejumlah produk unggulan Wong Solo akan segera
diluncurkan.
Menurutnya, selama ini Wong Solo dikenal sebagai rumah
makan biasa. Padahal, usahanya ini memiliki sejumlah produk unggulan.
Contohnya, beras terbaik dari Delangga. Juga, kangkung unggulan yang
hidup di air panas dari Cibaya, yang karena daya tahannya yang kuat
dinamakannya Kangkung Perkasa. Selain itu, ia juga memiliki beberapa
produk unggulan yang namanya nyerempet-nyerempet poligami, seperti Jus
Poligami, Jus Dimadu, atau Tumis Cah Poligami. Terlepas dari
kontroversi yang ada, suka tidak suka, Puspo adalah salah satu pebisnis
yang piawai mem-brand-kan dirinya.
|