|
Salah satu keluhan yang paling sering kita lontarkan adalah tentang
keterbatasan waktu. Kita merasa seolah-olah pekerjaan yang harus
diselesaikan itu terlalu banyak. Sehingga hal-hal yang seharusnya
selesai, malah terbengkalai. Orang-orang positif memandang
keterbatasan waktu sebagai sinyal baginya agar benar-benar
memanfaatkan waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bermanfaat.
Mereka memastikan bahwa waktunya digunakan dengan efektif, untuk hal-
hal yang positif secara produktif.
Sedangkan, orang-orang negatif
memandang keterbatasan waktu sebagai penghalang, sekalian alasan
untuk tidak menyelesaikan tanggungjawabnya. Pertanyaannya sekarang
adalah; apakah memang pekerjaan kita yang terlalu banyak, ataukah
kita yang tidak benar-benar menggunakan waktu yang kita miliki untuk
hal-hal yang berguna?
Jam sembilan pagi, seorang eksekutif sedang mengadakan pertemuan
diruang meeting. Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara dua
orang memasuki ruang meeting lain yang letaknya bersebelahan.
Sebenarnya, system penyekat yang memisahkan kedua ruang meeting itu
sudah cukup bagus, sehingga kalau orang-orang dikedua ruang itu
berdiskusi secara normal, suaranya tidak akan tembus keruang
sebelahnya. Namun, sering orang datang ke ruang meeting tidak untuk
meeting, melainkan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan
itulah yang terjadi dengan orang-orang yang berada diruang meeting
sebelah itu.
Sekarang sudah jam sepuluh. Tapi, pembicaraan dari ruang sebelah
belum juga menandakan pembahasan sesuatu yang berhubungan dengan
pekerjaan. Alih-alih, mereka berdua itu asyik-asyik saja mengobrol
ngalor ngidul sambil sesekali cekikikan dan cekakakan. Jam makan
siang hampir tiba. Kandungan ceritanya masih seperti acara gossip
program infotainment. Hebat sekali. Disaat orang-orang normal bekerja
secara produktif, mereka mengambil langkah sebaliknya. Jika anda
mengira bahwa kisah ini sekedar rekayasa belaka, anda keliru. Dan
dalam kejadian itu, sang eksekutif adalah atasan langsung dari salah
satu orang yang berada diruang sebelah itu. Permasalahannya bukanlah
apakah kita bisa bersembunyi dari atasan atau tidak. Bukan pula
apakah waktu itu disia-siakan dengan mengobrol yang tidak jelas atau
melakukan hal lain yang kurang bermanfaat. Melainkan apakah kita
benar-benar bertanggungjawab dengan waktu kita?
Ini sangat ironis. Karena, kita seringkali mengatakan kepada atasan
bahwa kita tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan begitu
banyaknya tugas ini dan itu yang dibebankan perusahaan kepada kita.
Seperti yang juga dikeluhkan oleh si perumpi yang ketahuan atasannya
tadi. Dia mengeluhkan terlalu banyaknya pekerjaan; sementara disaat
seharusnya dia bekerja, dia malah menyia-nyiakan waktunya untuk
sesuatu yang sama sekali tak berguna buat perusahaan yang
membayarnya. Tidak juga bisa menjadikan dirinya tambah pintar, atau
lebih terampil.
Ada juga orang yang berkata;"Semua pekerjaanku kan sudah selesai.
Soal sisa waktu yang ada, itu urusan gue!" Jika kita mendengar
pernyataan semacam ini, perlu diuji kebenarannya. Betulkah pekerjaan
orang ini sudah selesai? Atau, barangkali memang perusahaan telah
salah mempekerjakan orang. Dijaman ini perusahaan membutuhkan orang
yang tidak hanya terampil. Tetapi juga penuh inisiatif. Orang-orang
yang sekedar terampil mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai
dengan juklak. Sedangkan orang-orang yang melengkapi keterampilannya
dengan inisiatif; bukan sekedar akan menyelesaikan pekerjaan,
melainkan datang kepada atasannya dengan gagasan-demi gagasan. Sebab,
orang-orang yang penuh inisiatif tidak perlu menunggu sang atasan
untuk menyuruhnya melakukan tugas ini dan itu. Dia sendirilah yang
berinisiatif untuk itu. Lagi pula, mana ada atasan yang bisa
selamanya mengawasi dan menyuapi setiap bawahan?
Para bijak bestari sudah sejak lama menemukan sebuah artefak yang
berisi tulisan kuno. Tulisan itu berbunyi `Fa-idzaa faroghta
fanshob'. Jika diterjemahkan secara bebas kalimat itu
berarti; `Jikalau engkau telah menyelesaikan satu hal, maka
berpindahlah dengan sungguh-sungguh kepada hal berikutnya.' Dengan
kata lain, artefak itu mengingatkan kita tentang betapa banyaknya hal
yang menunggu untuk kita tangani. Sehingga, sesungguhnya kita tidak
memiliki cukup alasan untuk berhenti berkarya. Oleh karena itu, orang-
orang yang mengikuti nasihat ini bersedia berpindah dari satu tugas
kepada tugas lain. Dari satu aktivitas kepada aktivitas lain. Dari
satu pencapaian, kepada pencapaian lain.
Beberapa tahun yang lalu, ada iklan mobil ditelevisi. Diakhir iklan
itu muncul sebuah tag line berbunyi; `For those who know, there is no
finish line'. Bisakah anda membayangkan seandainya seorang karyawan
mempunyai sikap dan pemahaman seperti itu? Dia tidak akan
mengatakan; `Pekerjaan gue kan sudah selesai. Gue bebas menggunakan
waktu yang gue miliki'. Karena, orang-orang yang berpengetahuan tidak
akan pernah menyia-nyiakan jam kerjanya untuk hal-hal yang sama
sekali tidak memberikan kontribusi kepada perusahaan. Atau tidak
membuat dirinya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Mengapa?
Karena, orang-orang yang mengerti, tahu bahwa; selama hayat masih
dikandung badan, there is no finish line.
Kalau begitu, kapan kita boleh beristirahat? Waktunya istirahat, ya
istirahat saja. Dan, disaat kita harus bekerja, ya bekerja. Jika kita
bisa menempatkan kedua hal itu saja, kita sudah menjadi pribadi yang
lebih baik. Dan, dengan prinsip ini, tidaklah mungkin kita mengatakan
bahwa pekerjaan kita sudah selesai. Sebab, jika demikian; apa alasan
perusahaan memperpanjang masa kerja kita? Bukankah tidak ada gunanya
bagi perusahaan? Ngapain mempekerjakan karyawan untuk suatu pekerjaan
yang sudah selesai?
Banyak orang yang mengatakan;"Jika saya memberi lebih kepada
perusahaan, apa imbalannya untuk saya?" Sounds familiar ya? Sejauh
yang saya tahu, orang yang berkontribusi lebih mendapatkan imbalan
lebih. Hanya saja, imbalan tidak selalu berupa uang. Sebab, ketika
seorang atasan menepuk bahu bawahannya karena hasil kerjanya lebih
baik dari teman-temannya; itu adalah suatu imbalan. Ketika para
pelanggan lebih puas dengan pelayanan kita dibandingkan yang
dilakukan oleh teman-teman kita, maka itupun sebuah imbalan.
Jadi, kalau begitu; imbalan itu apa sih? Imbalan is hukum kekelan
energi in action. Anda masih ingat? Setiap wujud atau tindakan itu
melibatkan energi. Sedangkan energi itu tidak akan pernah hilang.
Oleh karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan, selalu ada
catatannya. Jadi, sangatlah penting untuk memastikan bahwa apa yang
kita lakukan itu baik. Sebab, kebaikan akan berbuah kebaikan. Persis
seperti yang dikatakan oleh guru ngaji saya, bahwa; "Suatu hari
nanti, seluruh umat manusia akan dibangunkan dari kuburnya. Dan pada
hari itu, akan diperlihatkan kepada mereka balasan atas pekerjaan
mereka. Barangsiapa yang melakukan kebaikan, meski hanya sebesar biji
wijen, niscaya dia akan mendapatkan imbalannya."
Dalam kehidupan duniawi, tidak semua perbuatan baik mendapatkan
imbalan yang pantas. Perusahaan banyak yang pelit kepada karyawan.
Atasan banyak yang tidak adil dalam mengambil keputusan. Teman,
banyak yang mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya sendiri.
Sedangkan Tuhan, tidak pernah keliru dalam menilai. Dan memberi
imbalan. Hitungannya dijamin benar. Kalkulasinya pasti berakurasi
tinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam artefak yang
ditemukan oleh para bijak bestari tadi ada tulisan berikutnya yang
berbunyi: `Wa-ilaa robbika farghob.' Setelah dicari tahu apa artinya,
ternyata itu adalah lanjutan dari nasihat tadi, yang berarti "Dan
kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menggantungkan harapan."
Oh, ternyata tulisan diartefak itu mengajak kita untuk terus
berkarya, hingga sebanyak mungkin potensi diri kita yang
terdayagunakan. Agar banyak manfaat yang bisa kita tebarkan.
Sedangkan imbalannya? Mungkin kita dapatkan secara kontan didunia.
Atau, mungkin langsung dimasukkan kedalam rekening tabungan kita
untuk bekal diakhirat kelak. Sebab, seperti pesan yang tertulis
diartefak itu; setelah menyelesaikan suatu kegiatan yang baik,
sebaiknya kita mulai melakukan kegiatan baik lainnya.
Menyelesaikannya. Lalu mulai lagi dengan kegiatan baik lainnya lagi.
Terus menerus begitu. Mumpung kita masih punya waktu. Karena, Tuhan
sedang mengobral imbalan. Meski kebaikan yang kita lakukan itu kecil
saja, imbalannya tetap ada. Dan bermakna. Mau?
Dadang Kadarusman
|