|
Saya tergelitik oleh tulisan Irwan Julianto di harian Kompas 28 Juli 2008 lalu, yang berjudul: Menolak Kutukan Bangsa Kuli. Di situ dibeberkan bahwa Presiden Soekarno, mungkin adalah satu-satunya pemimpin bangsa ini yang peduli tentang perlunya meningkatkan kesadaran rakyat akan martabatnya sebagai manusia.
Eine nation von kuli und kuli unter den nationen, adalah kata-kata Emil dan Theodor Helfferich kakak beradik bangsa Jerman - yang sempat tinggal betahun-tahun di Indonesia semasa penjajahan Belanda. Bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa lain, kata mereka. Benar-benar menyakitkan.
Tidak jelas bagaimana sesungguhnya kualitas bangsa Indonesia sebelum orang Belanda pertama kali menjejakkan kaki di bumi Pertiwi ini, tapi penjajahan 350 tahun lebih oleh Belanda tidak dapat ditepis adalah gemblengan terpanjang yang dialami bangsa kita untuk menjadi bangsa kuli.
Pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Daendels, kebijakan Cultuur Stelsel oleh Van den Bosch, pengiriman pekerja pribumi ke Birma (Myanmar sekarang), komunitas pekerja perkebunan yang dikelola meneer-meneer Belanda, ditambah lagi dengan Kerja Rodi ala pendudukan Jepang, semua itu secara terus menerus jelas merusak mental bangsa Indonesia sehingga benar-benar menjadi bangsa bermental kuli.
Apakah peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak ratusan tahun lalu itu masih membekas di dalam mental generasi kita sekarang? Saya cenderung mengatakannya ya!
Fenomena minderwaardigheid complex (minder rasa rendah diri) kepada bangsa asing masih selalu tampak tidak saja pada rakyat biasa, tapi bahkan juga kelihatan jelas menghinggapi beberapa pejabat negara ketika berhadapan dengan orang kulit putih.
Perilaku xenophilia yang memuja-muja produk asing, sekaligus memandang rendah produk bangsa sendiri, sudah kita ketahui bersama menjangkiti hampir seluruh komponen masyarakat, mulai dari lapisan akar rumput sampai ke tingkat penguasa negeri.
Tidak heran kalau beberapa teman saya yang lulusan cemerlang ITB, masih harus nguli ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand guna mencari nafkah, karena keahliannya tidak terpakai oleh pemerintah di negeri sendiri.
Puncak dari semua itu sudah kita ketahui bersama yaitu fenomena pengiriman TKI dan TKW ke luar negeri. Meski sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kasus penganiayaan, pelecehan, perkosaan dan bahkan pembunuhan menimpa para tenaga kerja kita, toh program ini tak pernah dihentikan. Malah dengan senyum bangga, pejabat tinggi Indonesia memberikan predikat Pahlawan Devisa bagi para TKI dan TKW.
Bukankah ini sebuah kebanggaan pejabat bermental kuli dari sebuah negara pengekspor kuli, yang mendidik rakyatnya untuk terus menjadi kuli?
Saya pernah berkhayal andaikata saya jadi SBY, saya akan larang semua program pengiriman TKI yang akan menjadi pembantu rumah tangga serta pekerja kasar di luar negeri. Saya ingin mereka semua berwirausaha saja di negeri sendiri, dan saya siapkan bekalnya dari tunjangan-tunjangan sejenis BLBI. Dari pada uang triliunan rupiah diberikan pada para konglomerat serakah, lebih baik dipakai memodali UKM yang jauh lebih aman dan bertanggungjawab. Tapi apa mungkin?
Jangankan TKI/TKW, kaum intelektual saja sangat kental paradigma kulinya. Coba lihat, rekan-rekan jurnalis dengan bangga mengatakan dirinya sebagai kuli tinta. Generasi muda sudah terprogram dengan lintasan hidup tamat sekolah, nguli di kantor..
Yang mendambakan diri menjadi pengusaha, tetap saja nguli dulu, paling tidak untuk menyenangkan hati orang tua dan calon mertua. Dan ketika tahu ada teman yang sudah berhasil dalam usaha, mereka berkata: Waduh enak ya udah jadi bisnismen, nggak kaya saya masih nguli teruus
Nah, sobat. Ini Quiz no. 3. Sudi kiranya memberikan komentar dan opini Anda, apa benar bangsa kita ini bangsa Indonesia adalah bangsa kuli? Nation of coolie among other nations?
Bagi Anda yang jawabannya dianggap paling menarik, akan mendapatkan sekedar hadiah berupa buku kiat sukses kewirausahaan. Semoga berkenan, having fun !!
Salam hangat,
Rusman Hakim
|