"Sebaik-baiknya bisnis adalah yang dibuka,
bukan ditanyakan terus"

Home arrow Kolom arrow Rusman Hakim arrow Keterampilan
Keterampilan PDF Cetak E-mail
(0 votes)
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Lapisan terluar dari struktur prioritas kewiraswastaan adalah keterampilan. Disini memang kadang-kadang terjadi kerancuan tentang tingkat prioritas yang semestinya dari keterampilan. Banyak orang termasuk beberapa pejabat pemerintah, kelihatannya lebih condong menempatkan faktor keterampilan sebagai prioritas utama dalam bidang kewiraswastaan. Pada pembahasan dan contoh-contoh mendatang akan kita lihat bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya, tanpa mengecilkan arti dari masing-masing unsur.

Ketrampilan teknis jelas merupakan faktor yang amat penting, karena disinilah nantinya kualitas produk ditentukan tinggi rendahnya. Jangan lupa bahwa yang kita bicarakan sekarang adalah keterampilan perorangan yang melibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memproduksi sesuatu, baik secara fisik maupun non-fisik. Jadi, termasuk dalam hal ini keterampilan manajerial, keterampilan pemasaran dan sebagainya.

Banyak pihak berpendapat bahwa dengan berbekal penguasaan keterampilan, seseorang akan bisa diharapkan menjadi seorang entrepreneur (wiraswastawan) yang berhasil. Pendapat ini sebenarnya tidak terlalu salah, kalau dilihat banyak contoh yang membuktikan misalnya seorang penjahit, yang dengan keterampilannya membuat pakaian, akhirnya bisa mendirikan sebuah perusahaan pakaian jadi yang cukup besar. Demikian juga seorang penata rambut yang dengan keahliannya itu sukses menjalankan usaha salon dengan berpuluh-puluh outlet berbasis waralaba (franchise).

Namun demikian, kalau kita mau meneliti lebih jauh, ternyata keberhasilan-keberhasilan itu sebenarnya bukan disebabkan oleh keterampilan semata, melainkan lebih oleh jiwa kepemimpinan yang dimiliki sipengusaha. Leadership yang bersangkutanlah yang menuntun dan membawanya kejenjang sukses.

Berapa banyak penjahit trampil di Indonesia ini, dan berapa banyak diantara mereka yang berhasil sukses ? Ratusan bahkan ribuan penjahit trampil ada di Indonesia, tapi yang muncul sebagai tokoh bisnis, bisa dihitung dengan jari. Apa yang salah? Ketrampilannya ? Bukan. Sebab, kalau dilihat dari segi keterampilan, mereka memang sesungguhnya trampil, beberapa bahkan amat trampil. Tapi, sebagian besar kekurangan nilai kepeloporan. Ada yang sudah cukup puas dengan hanya menjadi pegawai orang, ada juga yang merasa cukup asal bisa terpenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dengan begitu, tidak heran kalau mereka dari tahun ketahun tetap dengan keadaannya yang tidak pernah berubah lebih baik.

Hal yang sama terjadi pada berbagai bidang keterampilan lain, seperti ahli mesin, ahli masak, arsitek, programer komputer dan lain sebagainya. Hanya mereka yang memiliki leadership akan mampu mengangkat dirinya kejenjang karir yang tinggi. Ketrampilan hanyalah sarana. Ketrampilan semata tidak cukup untuk mengantar orang kejenjang kehidupan yang sukses, terutama kehidupan dalam dunia usaha..

Ada tiga hal yang memungkinkan seseorang, baik trampil maupun tidak, untuk bisa tampil sebagai tokoh yang sukses atau orang berkecukupan, yaitu :
1). Memanfaatkan leadership yang berasal dari diri sendiri.
2). Memanfaatkan leadership orang lain.
3). Faktor keberuntungan (luck atau hokkie).

Semua disiplin ilmu tidak memperhitungkan adanya faktor keberuntungan, demikian juga dengan ilmu kewiraswastaan. Dunia wiraswasta tidak merekomendasikan orang untuk hanya menunggu datangnya keajaiban atau “rejeki nomplok”, walaupun hal itu kerap terjadi dan bisa diberikan contohnya disini.

Rata-rata orang besar dan tokoh kewiraswastaan sejati mengandal sepenuhnya pada jiwa kepeloporan yang dimiliki diri sendiri sehingga mencapai tingkat kemapanan. Kita kenal nama-nama seperti Thomas Alva Edison yang berhasil sukses dengan ratusan hak paten berkat penemuannya dalam bidang teknik padahal ia hanya mengecap bangku sekolah selama 3 minggu saja. Wright Bersaudara yang tidak peduli dengan cemoohan orang lain atas usahanya menemukan pesawat terbang, akhirnya menjadi tokoh sukses legendaris yang memungkinkan kita menikmati dunia penerbangan modern sekarang ini.

Didunia usaha kita tahu Kolonel Sanders dengan bisnis ayam goreng Kentucky Fried Chicken, Steve Jobs dengan Apple Computer, Donald Trump yang mendominasi dunia properti di Amerika, semuanya bertumpu pada leadership masing-masing untuk merebut masa depan penuh kesuksesan.

Didalam negeri kita kenal dengan Bakrie, Dasaad, Hasyim Ning si raja mobil, dan Wiliam Suryadjaya yang juga tampil sukses dengan dukungan jiwa kepemimpinannya sendiri.

Sekarang ini masyarakat dunia sedang mengarahkan perhatian pada kiat sukses orang terkaya sejagat yang bernama Bill Gates. Dia berhasil menjadi raja komputer melalui perusahaannya yang bergerak dalam bidang perangkat lunak (software), yaitu Microsoft Corporation. Banyak orang menganggap bahwa keberhasilan Bill Gates itu berkat keterampilannya yang istimewa sebagai seorang pemrogram komputer.

Sebenarnya anggapan itu kurang tepat. Gates benar piawai dalam pemrograman, dan ia juga seorang jenius karena tingkat I.Q. nya sangat tinggi. Akan tetapi, hakekat kesuksesannya bukan diperoleh karena keterampilan. Khusus untuk Bill Gates, suksesnya itu dicapai secara agak unik, yaitu selain leaderhipnya yang memang kuat, faktor keberuntungan juga banyak berperan.

Kisahnya begini. Pada awalnya, Bill Gates memang sudah memiliki perusahaan sendiri, yang bernama Microsoft tersebut. Perusahaan ini masih dalam ukuran kecil bila dibanding ukuran perusahaan-perusahaan komputer seperti IBM atau Digital Equipment Corporation (DEC). Dengan jumlah pegawai tidak lebih dari 80 orang, Microsoft beroperasi dalam bidang perangkat lunak untuk komputer.

Pada tahun 1980, perusahaan raksasa IBM sedang dalam proses pembuatan sebuah prototipe komputer baru yang disebut IBM Personal Computer (IBM PC). Proyek ini adalah proyek multi-vendor yang baru kali itu dilakukan IBM didunia komputer pribadi. Oleh karenanya, pekerjaan ditarget untuk selesai dalam waktu yang sangat pendek, sekitar 10 bulan saja.

Karena proyek multi-vendor, dengan sendirinya banyak perusahaan-perusahaan lain dilibatkan. Untuk chip prosesor, perusahaan Intel Corp. dipercayakan untuk pengadaannya. Epson America diberi tanggung jawab untuk menyediakan alat pencetak (printer). Alat pemutar disk ditangani oleh Tandon Corp.

Semula, IBM ingin menyerahkan pekerjaan pembuatan perangkat lunak untuk sistem operasi IBM PC tersebut kepada sebuah perusahaan software yang dianggap sudah mapan, yaitu Digital Research. Akan tetapi, menurut sebuah versi cerita, Digital Research konon kurang berminat terhadap proyek pembuatan komputer mikro, karena mungkin dianggap kurang menguntungkan secara bisnis. Akhirnya, kerja sama menjadi batal.

Dikejar waktu, IBM mengalihkan penawarannya kepada Microsoft, perusahaannya Bill Gates. Serta merta, karena merasa mendapat kesempatan dan kehormatan dari pemimpin pasar komputer sedunia, Bill Gates menerima baik ajakan tersebut.

Bagai pucuk dicinta ulam tiba, keputusan itu membawa berkah keajaiban kepada Bill dan Microsoftnya. Ternyata, IBM PC menjelma menjadi standar internasional yang menggeser peranan semua jenis komputer lain, sehingga sejalan dengan revolusi perkomputeran diseluruh dunia, Microsoft pun berkembang pesat luar biasa menjadi sebuah perusahaan terkaya, mengalahkan kepopuleran IBM, yang memberinya pekerjaan.

Kisah ini memperlihatkan bahwa faktor keberuntungan dapat saja sewaktu-waktu datang membuka jalan keberhasilan kepada siapa pun. Namun demikian, perlu diingat bahwa faktor keberuntungan itu tidak boleh diperhitungkan sebagai sesuatu yang pasti datang. Seorang wiraswastawan harus selalu mengandalkan kerja keras dan kepiawaiannya sendiri.

Sementara itu, ada orang-orang yang ingin maju, namun tidak memiliki kadar kepemimpinan yang memadai untuk bisa menjadi tokoh terkemuka. Sadar akan kekurangannya, orang-orang tersebut yang biasanya memiliki keterampilan tinggi dalam bidang-bidang tertentu, meminta bantuan orang lain yang memang memiliki leadership dan profesionalisme.

Mike Tyson, Evander Holyfield dan beberapa juara dunia tinju lainnya, menjadi amat kaya dan terkenal karena mempercayakan masa depan keterampilannya kepada orang lain, dalam hal ini Don King. Seperti hampir semua orang tahu, Don King adalah promotor kelas wahid didunia yang memiliki begitu besar potensi leadership.

Hal yang sama juga dilakukan oleh orang-orang yang mengandalkan keterampilan seperti tokoh musik, artis film dan lain sebagainya. Mereka rata-rata menyerahkan masa depannya kepada para leader, yaitu para manajer, produser dan promotor profesional.

Dikalangan bisnis juga dikenal yang namanya kaum profesional. Kelompok ini sadar benar bahwa mereka memiliki potensi leadership yang besar, dan ini bisa dijual. Berbekal potensinya itu, ditunjang pengalaman dan pengetahuan dalam bidang-bidang keterampilan manajemen, pemasaran dan lain-lain, mereka bisa menawarkan diri kepada perusahaan-perusahaan besar untuk menduduki jabatan-jabatan penting seperti Presiden Direktur, General Manajer dan sebagainya, dengan imbalan bahwa mereka mampu membawa perusahaan tersebut kejenjang kemajuan bisnis yang lebih baik. Kaum profesional yang sudah terkenal biasanya digaji dengan jumlah yang amat tinggi, kadang-kadang bahkan terkesan fantastis.

Salah seorang profesional yang namanya sudah amat akrab ditelinga masyarakat Indonesia adalah Tanri Abeng. Dia dikenal sebagai seorang profesional yang menduduki jabatan Presiden Direktur diperusahaan Multi Bintang, dan kemudian hijrah untuk menangani kelompok Bakrie.

Kaum profesional pada hakekatnya juga wiraswastawan, karena mereka menjual potensi diri kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi kliennya. Status mereka sebagai profesional berbeda dengan mereka yang bekerja sebagai karyawan atau buruh. Profesional lebih cenderung menjual leadership, sedangkan karyawan dan buruh menjual keterampilan (skill), atau bahkan hanya tenaga fisik belaka.

Dengan penjelasan ini, jelaslah bagi kita bahwa pada dasarnya jiwa kepemimpinan lebih memegang peranan atas keberhasilan seseorang dalam dunia usaha, dari pada keterampilan semata. Ketrampilan akan sangat dibutuhkan, manakala persoalannya merupakan persoalan tenaga kerja, yang menuntut kepiawaian pekerja dalam keterampilan, tanpa bisa ditawar-tawar lagi.

Oleh : Rusman Hakim

 
 



INSPIRASI BISNIS

"Jika tak punya Modal, CARI org yg punya Modal. Jika tak PintaR Jualan, CARI org yg pintar Jual. Pengusaha tak harus PintaR, tp harus PintaR CARI org PintaR" Jaya Setiabudi


 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini158
mod_vvisit_counterKemaren842
mod_vvisit_counterMinggu ini1797
mod_vvisit_counterBulan ini4884
mod_vvisit_counterTotal38370

YEA Indonesia


 

Agenda Acara

« < January 2009 > »
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
« < February 2009 > »
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28

Komentar Terbaru

Bersaing dengan stud...
Tuh khan semua bermula dari yang kecil baru jadi B...
DEMI ORANG TUAKU, AK...
thanks bgt mas Apapun yang terjadi tetap eksis di ...
Menjadi Manusia Yang...
It's true, but really difficult to make it real. P...
Standard Operating P...
Thanks yah... kepake banget nih... btw... ada 9 un...
Ide Bisnis: Dari Man...
ide eksekusi = inlah salah satu hal yg membuat p...

Statistik USER

Total Member : 810
Member Terbaru : joe15
Member Online : 0
Hari ini : 2 Terdaftar
Minggu ini : 13 Terdaftar
Bulan ini : 36 Terdaftar

Pengunjung Online

Anggota Online

Tidak ada Anggota Online