"Sebaik-baiknya bisnis adalah yang dibuka,
bukan ditanyakan terus"

Home

BELAJAR GOBLOK DARI BOB SADINO

Pasti Anda bingung dengan judulnya, ‘goblok’ kok dipelajari! Awalnya saya juga bingung, tapi setelah bertemu langsung dengan Om Bob (pangilan akrab Bob Sadino), baru percaya bahwa statement itu benar. 

Selengkapnya...

5 LANGKAH KILAT JADI PENGUSAHA

Siapa bilang jadi pengusaha sukar? Sama halnya seperti berenang dan menyetir. Sekali kita bisa, kita tak akan lupa. Masalahnya banyak orang yang belum "tuntas" belajarnya, sudah berhenti dan berkata "Bisnis itu susah, resiko". Berikut adalah 5 langkah kilat jadi pengusaha, yang sudah terbukti menghasilkan banyak pengusaha sukses. Tanpa banyak teori! 

Selengkapnya...

ANTI KEMAPANAN

Ahli ilmu pengetahuan pernah mencoba memasukkan katak hidup dalam kuali yang berisi air mendidih. Spontan katak itu lompat melebihi batas lompatannya yang wajar. Percobaan kedua dilakukan dengan cara yang berbeda. Kuali berisi air dengan suhu normal, kemudian katak yang lain dimasukkan.

Selengkapnya...

BENAR MENURUT SIAPA?

Orang bilang,”Waktu akan mengubah seseorang”. Ada yang berkomentar benar, jika waktunya dipakai dengan penuh aktivitas, belajar dari kesalahan dan mau berubah. Ada juga yang berkomentar salah, karena ia merasa tidak mendapatkan perubahan dalam dirinya. Atau bahkan ada yang berkomentar,”Mengapa aku harus berubah? Wong tidak ada yang salah pada diriku?” Saya pribadi mendapatkan perubahan dari pelajaran-pelajaran yang saya alami. Suatu saat di akhir tahun 2002, ada suatu kejadian yang sangat tidak mengenakkan.

Selengkapnya...

BIARKAN ANAKKU JADI KULI !

Suatu Statement yang bertolak belakang dari kata-kata ayah saya (yang juga seorang karyawan),”Lebih baik kecil jadi bos, daripada gede jadi kuli!” Tapi itulah kenyataannya. Mayoritas orang tua murid secara tidak langsung menggiring anaknya jadi kuli. Jika Anda memiliki seorang anak yang sekarang bingung mau jadi apa? Coba ingat-ingat kembali, apa yang telah Anda ajarkan bagi mereka? Sejak dari usia dini, mereka diajarkan untuk “tidak membuat kesalahan”, betulkah?! Sebagian atau mungkin mayoritas pembaca akan protes (saya juga pas dengar kata-kata ini dari Om Bob Sadino juga bertanya-tanya),”Emang mau ngajarin anak kita berbuat salah atau gagal?” Saat anak Anda belajar berjalan dan mulai memanjat, Anda berkata,”Eehh, JANGAN manjat-manjat, nanti jatuh!” Doktrinisasi lainnya,”Belajar yang rajin, sekolah yang tinggi, biar gampang CARI KERJA”. Kala anak kita ingin memulai usaha sambil kuliah, Andapun berkata,”Udah, selesaikan sekolahmu dulu…!” Apa yang dikatakan kebanyakan orang tua setelah anaknya lulus kuliah dan ingin memulai usaha? “Kerja dulu di perusahaan besar, cari pengalaman dan kumpulkan uang untuk modal, baru mulai usaha!” Biasanya mereka akan terjebak di zona kenyamanan dan hilanglah keberanian. Apa yang akan Anda katakan saat anak Anda gagal usaha? “Udahlah, kamu tuh nggak bakat jadi pengusaha!” Sadar atau tidak, sebagai orang tua, Anda sangat berperan membentuk nasib anak Anda saat ini atau dimasa mendatang. Jika mereka jadi bimbang saat mau melangkah, takut salah, takut gagal, diam ditempat dan loyo. Ya itu buah dari apa yang telah Anda tanamkan ke mereka. Saya adalah sebagian kecil orang yang beruntung mendapatkan nilai-nilai kemandirian dari orang tua saya. Meskipun ayah saya seorang karyawan sampai pensiun, namun doktrinisasi kemandiriannya membuat saya tegar menghadapi semua rintangan hidup. Apa kata-kata lain yang sering diucapkan ayah saya? “Papah yakin, kamu PASTI BISA!”, “Coba terus sampai bisa”, “Gelar itu tidak penting, skill lebih penting”, “Belajarlah dari kesalahan” bukannya tidak boleh salah lho.Cari KETRAMPILAN Bukan Gelar Minggu lalu saya berjumpa dengan salah seorang mahasiswi Universitas Ciputra, bernama Carol. Di usianya yang baru 19 tahun, saya cukup kagum dengan kemampuannya berinteraksi dengan orang lain. Carol menceritakan perihal pertemuannya dengan Ciputra, pendiri Universitas Ciputra. Pak Ci berpesan kepada Carol,”Kamu semester 6 keluar aja, bangun usahamu. Tak usah lama-lama sekolah”. Jika Anda sebagai seorang dosen atau orang tua murid, beranikah Anda mengatakan seperti itu? Pikir 200 kali mungkin ya? Kenapa Pak Ci berani mengatakan seperti itu? Justru karena beliau melihat potensi Carol yang bisa melesat lebih jauh dibanding jika ia tetap di bangku kuliahnya? Bagaimana dengan gelarnya sebagai seorang sarjana? Justru saat ia tidak mendapat gelar sarjana, tidak memberikan pilihan baginya menjadi seorang karyawan. Perlu diketahui, hingga saat ini, Universitas Ciputra statusnya belum terakreditasi! Siapa sih orang tua yang mengijinkan anaknya sekolah seperti itu? Sama halnya dengan Young Entrepreneur Academy (YEA) yang saya dirikan dan akan membuka cabang di Bandung, awal tahun nanti. Sengaja saya tidak mau memberikan sertifikat. Karena jika diberikan, biasanya akan dipakai untuk melamar pekerjaan. Siswa YEA akan diluluskan hanya jika “Mencapai OMSET USAHA minimum 50 juta rupiah perbulan dan NETT PROFIT 5 juta perbulan”. Gilanya lagi, mahasiswa YEA boleh membuat kesalahan, asalkan menanggung kesalahan itu bersama timnya. Hal itu terjadi saat salah satu kelompok Event Organizer YEA angkatan 2 membuat kerugian 8 juta rupiah. Merekalah yang harus menanggung kerugian yang telah mereka perbuat. Untungnya, meski masih berusia belasan tahun, mereka tahu bagaimana cara mencari uang untuk menutup kerugian itu. Inilah realitas kehidupan sebagai seorang pengusaha yang diajarkan ala YEA. Pertanyaan saya kepada para orang tua: 1. Apakah anak Anda dipersiapkan menjadi karyawan atau pengusaha? 2. Apakah anak Anda bisa mandiri, (maaf) jika Anda meninggal nantinya? 3. Apakah Anda mengijinkan anak Anda berbuat kesalahan (bukan kejahatan)? 4. Apakah GELAR atau KETRAMPILAN yang lebih penting bagi anak Anda? 5. Apakah Anda memberikan ‘ikan’ atau mengajarinya ‘memancing’? “Jangan biarkan anak Anda jadi kuli, kasihan!” FIGHT! Jaya Setiabudi Direktur Young Entrepreneur Academy 0819 818 919 www.yukbisnis.com

Selengkapnya...

Success Story

Jaya Suprana, orang Tionghoa yang besar dalam budaya Jawa. Pria bertubuh tambun dan berkacamata tebal yang lahir di Bali, Denpasar, 27 Januari 1949..selengkapnya...


Sektor usaha kecil dan menengah juga merupakan pasar yang menggiurkan. Hal ini dibuktikan oleh sukses bisnis PT Zahir International Selengkapnya...  

 

Dulu, bioskop di Indonesia hanya dikenal sebagai tempat nonton film dan dimonopoli Kelompok 21. Sejak akhir 2006, kondisinya berubah saat Ananda Siregar bersama tiga rekannya menghadirkan Blitzmegaplex. ... Selengkapnya..

Simply A Terimakasih PDF Cetak E-mail
(3 votes)
Penilaian Pengguna: / 3
BurukTerbaik 
Anda tentu masih ingat tentang frase `tidak tahu terimakasih'. Sebuah sebutan yang biasa kita gunakan untuk menggambarkan mereka yang melupakan orang-orang yang telah berjasa kepadanya. Tentu, ini bukan karena mereka tidak tahu bahwa seharusnya mereka berterimakasih, tapi; egonya terlampau besar untuk bisa mengakui hal itu. Lagi pula, mengapa harus berterimakasih jika hal itu justru akan menunjukkan seolah-olah kerberhasilan yang selama ini kita raih itu bukan dari hasil usaha kita sendiri.
Padahal, sesungguhnya yang namanya `hasil usaha sendiri' itu tidak ada. Hanya gara-gara anda membeli sendiri sayur ke pasar. Lalu mencuci. Dan kemudian memasaknya hingga matang. Anda tidak bisa serta merta menganggap bahwa anda menyediakan makanan itu sendiri. Memangnya, siapa yang bersedia belumur lumpur untuk menanam benih sayuran itu ketika masih berupa biji-bijian. Siapa yang bersedia membebani pundaknya membawa sayuran itu dari tengah sawah menuju kepasar didekat rumah? Dan siapa yang sudah memeras keringat memasangkan saluran air untuk mencucinya dipancuran keran air rumah kita?

Seorang sahabat bercerita tentang temannya dimasa lalu. Disaat segalanya masih serba alakardarnya, konon dialah yang memberikan bantuan ini dan itu kepada sang sahabat. Bahkan, ketika sahabatnya tidak memiliki sedikitpun makanan untuk disantap; dialah yang bersedia berbagi bekal untuk dinikmati bersama-sama. Ketika sahabatnya tengah sakit, dialah yang membawanya kedokter dan membelikan obat. Bertahun-tahun kemudian, sahabatnya sudah menjadi orang sukses. Jauh lebih sukses dari dirinya. Ketika baru-baru ini mereka kembali saling jumpa, segalanya sudah sangat berbeda. Kejadiannya agak kurang menyenangkan sehingga dia berkata dalam hatinya;'haruskah aku mengingatkannya tentang kebaikan-kebaikanku dimasa lalu?" Saya bertanya; `untuk apa?' Dia berkata;"Untuk mengingatkan bahwa dia tidak akan pernah jadi orang kalau dulu tidak ada yang menolongnya!" Matanya melotot; "Dan itu adalah AKU!" lanjutnya.

Semakin kita menyadari bahwa kita ini tidak bisa hidup sendiri, selayaknya semakin kita sadari bahwa diluar diri kita, begitu banyak peran yang dimainkan oleh orang lain. Ada peran orang lain dalam sukses kita. Ada peran orang lain dalam sehat kita. Ada peran orang lain, dalam segala kenikmatan hidup kita. Tapi, kadang kita lupa akan semuanya itu. Kita masih suka mengira bahwa meskipun kita ini mahluk sosial. Mahluk yang hanya bisa meraih kesempurnaan hidup jika dan hanya jika berinteraksi dan saling mengisi dengan orang lain. Namun, kita suka berkata;"ini adalah hasil kerja keras dan jerih payah gue!" Kita lupa, bahwa ada kontribusi orang lain ketika 'sang gue' bekerja keras dan berjerih payah. Seorang atasan yang sukses, lupa bahwa kesuksesannya sangat ditentukan oleh kontribusi para bawahan. Seorang bawahan yang sukses, berkata; "Lihatlah, tanpa atasan gue, gue bisa berhasil juga." Kita, kadang-kadang mengingkari kemahluksosialan kita sendiri.

Kata terimakasih memiliki dimensi vertical, juga horizontal. Secara horizontal, dia merupakan mantra yang paling ampuh untuk menarik energi positif mendekat kearah kita. Ketika kita mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah berbuat kebaikan kepada kita misalnya; maka energi yang keluar dari kata terimakasih itu memberikan vibrasi positif yang membangkitkan kenikmatan disekujur tubuh orang yang ditujunya. Tepat disaat mendengar ucapan terimakasih dari kita; dia merasa bahagia. Dan perasaan bahagia itu menghubungkannya dengan penemuan bahwa; ternyata berbuat baik kepada orang lain itu rasanya membahagiakan.

Itulah sebabnya mengapa orang yang telah berbuat kebaikan secara tulus. Lalu, diberi ucapan terimakasih secara tulus pula cenderung untuk melakukan kebaikan yang lebih banyak. Dan hal ini merupakan satu pertanda lain bahwa kebaikan itu menimbulkan ketagihan. Artinya, orang-orang yang sudah merasakan betapa indahnya berbuat kebajikan cenderung untuk mencari keindahan lain dengan cara berbuat kebajikan lain. Semakin indah. Semakin nikmat. Semakin bersemangat. Sehingga, kebaikan terus meluncur dari jemari tangannya. Laksana mata air yang tidak pernah kering.

Jika kita ingat bahwa Tuhan memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik, maka pastilah kita ingat pula bahwa semakin banyak kita berbuat baik, semakin banyak pula pahala yang Tuhan berikan. Jadi, jika kita semakin bersemangat untuk berbuat kebaikan karena orang berterimakasih pada kita, sesungguhnya yang diuntungkan adalah kita. Sebab, dengan ucapan terimakasih orang itulah kita akhirnya berbuat kebaikan lain. Dan mendapatkan pahala lain dari Tuhan. Jadi, jika kita yang untung gara-gara termotivasi oleh orang yang mengucap terimakasih kepada kita; siapa sesungguhnya yang paling berjasa diantara kita? Siapa yang paling pantas untuk berucap terimakasih? Mereka yang yang kita tolong? Ataukah kita yang menjadi semakin terdorong? Jangan-jangan, kitalah yang harus berterimakasih itu….

Secara vertical, kata terimakasih memiliki makna yang khusus pula. Lagipula, bukankah memang sudah sepantasnya kita berterimakasih kepada Tuhan? Sebab tidak ada satupun peristiwa yang terkait dengan kita tanpa campur tangan Tuhan. Telinga kita, mata kita, tangan kita, jiwa, bahkan hidup kita seluruhnya adalah bukti nyata bahwa terimakasih kita kepada Tuhan bisa menjadi tiada berbatas. Makanya, pantaslah jika Dia berkata: "Jika engkau menghitung-hitung nikmatKu, maka pastilah engkau tidak bisa menghitungnya." Sampai disini, kalimat itu masih tidak bisa dibantah. Sebab, memang nikmat Tuhan itu begitu melimpah. Sehingga kita tidak mungkin menghitung dan menginventarisirnya satu demi satu. Lagipula, mengapa kita harus menghitungya? Lebih baik mensyukurinya saja. Sebab, konon, Tuhan juga mengatakan bahwa; "Sesungguhnya, jika kamu bersyukur; maka Aku akan menambahkan kenikmatan yang disyukuri itu berkali-kali lipat....."

Dadang Kadarusman

feed2 Komentar
Dera Ishaq
August 29, 2008
114.120.100.70
Nilai: +0

alo kang Dadang,…
honestly biasanya saya suka tulisan2 kang Dadang,…tapi… untuk topik ini,saya sedikit kurang sepakat kang..boleh dong..;)

Sepertinya tulisan kang Dadang ini bagus JIKA hanya ditinjau dari sudut PENERIMA kebaikan dari orang lain,sehingga kita senantiasa DIINGATKAN untuk senantiasa menghargai orang lain…

tetapi jika ditinjau dari sisi PEMBERI kebaikan maka tulisan ini sepertinya sangat EGO sekali dan menunjukkan KETIDAKIKHLASAN,..bukankah jika kita memberi dg tangan kanan maka sebaiknya tangan kiri tidak perlu tahu..?
Tangan kiri aja gak dilibatkan,…jadi mengapa harus melibatkan perasaan didasarkan dg pembenaran logika untuk ‘mengungkit-ungkit’ apa yang sudah kita berikan di masa lalu…

IKHLAS..IKHLAS…IKHLAS
jika dalam barter kebaikan baik itu pemberi…ataupun penerima bermodalkan ikhlas…hmmm,alangkah indahnya..

diralat dong kang tulisannya!
haha
(sedikit komplain gapapa kan…adik angkatan sekampus ini haha)

dera
FA90-itebe juga
http://www.mimumiku.com
http://www.friendster.com/mbakdera



report abuse
vote down
vote up
Edi D Purwanto
September 12, 2008
125.160.80.223
Nilai: +0

Alhamdulillah, tulisan ini cukup memberi penyadaran buat saya. sukses selalu Buat Pak Dadang dan tak lupa thanks saya buat referensi dalam menambah wawasan.

report abuse
vote down
vote up

Tulis Komentar
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
kolom kecil | kolom besar
 

security image
Isikan karakter security


busy
 
 



INSPIRASI BISNIS

"TEGAS bukan berarti SADIS. Lebih baik TEGAS, drpd org2 sekitar kita terkena imbasnya." Jaya Setiabudi


 

Ecamp 7 | Tutup
Advertisement

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini337
mod_vvisit_counterKemaren842
mod_vvisit_counterMinggu ini1976
mod_vvisit_counterBulan ini5063
mod_vvisit_counterTotal38550

YEA Indonesia


 

Agenda Acara

« < January 2009 > »
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
« < February 2009 > »
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28

Komentar Terbaru

Bersaing dengan stud...
Tuh khan semua bermula dari yang kecil baru jadi B...
DEMI ORANG TUAKU, AK...
thanks bgt mas Apapun yang terjadi tetap eksis di ...
Menjadi Manusia Yang...
It's true, but really difficult to make it real. P...
Standard Operating P...
Thanks yah... kepake banget nih... btw... ada 9 un...
Ide Bisnis: Dari Man...
ide eksekusi = inlah salah satu hal yg membuat p...

Statistik USER

Total Member : 811
Member Terbaru : Pradhika Rama Ulianto
Member Online : 0
Hari ini : 3 Terdaftar
Minggu ini : 14 Terdaftar
Bulan ini : 37 Terdaftar

Pengunjung Online

Saat ini ada 9 tamu online

Anggota Online

Tidak ada Anggota Online