|
Dulu, bioskop di Indonesia hanya dikenal sebagai tempat nonton film dan dimonopoli Kelompok 21. Sejak akhir 2006, kondisinya berubah saat Ananda Siregar bersama tiga rekannya menghadirkan Blitzmegaplex. Di jaringan baru itu, kita bisa melakukan aneka aktivitas, termasuk menggelar event bisnis. Maka, bergeraklah industri bioskop di Tanah Air ke era kompetisi. Meski jumlah bioskop Blitz baru tiga, Kelompok 21 (yang memiliki 104) telah berhasil dipaksa untuk berbenah.
Blitz mampu menghadirkan perubahan radikal. Rata-rata, setiap bioskopnya (kini hadir di mal Parijs van Java di Bandung serta Grand Indonesia dan Pacific Place di Jakarta) berisi 10 ruang pertunjukan. Pesaing rata-rata hanya memiliki empat layar. Selayaknya hipermarket, Blitz menawarkan pilihan produk yang lebih beragam. Belasan film bisa dipilih setiap harinya (satu studio bisa memutar lebih dari satu film per hari). Nyaris tak ada antrean di bioskop ini. Blitz menyediakan layanan pembelian tiket secara online. Di lapangan, anak-anak muda dengan keinginan belajar tinggi dan dinamis sigap melayani penonton.
Blitz menawarkan gaya hidup dan pengalaman menonton yang sama sekali baru. Desain gedung dan ruangannya modern serta segar. Ruang pertunjukannya nyaman dan berteknologi tinggi. Bahkan pengaturan tata lampunya memanjakan mata. Juga terdapat kafe mewah dilengkapi layanan internet nirkabel. Dengan pilihan makanan yang bukan sekadar pas untuk nonton, tempat itu bisa menjadi tempat nongkrong yang asyik.

Ananda yang baru berusia 33 tahun mengaku tak sengaja mendirikan Blitz. Waktu itu, tempat kerjanya, Farindo Invesment, memintanya menemukan lahan usaha prospektif di Indonesia. Karena ia gemar menonton, hobi itu ditawarkannya, dibungkus konsep media entertainment. Lelaki itu telah melakukan pengamatan dan riset mendalam. Ia mengaku heran, penonton rela antre panjang untuk menonton sebuah film. Baginya, "ketidakberesan" ini merupakan peluang bisnis.
Sayangnya, gagasannya ditolak. Kegagalan ini menjadi pemicu langkah lulusan Northwestern University, Chicago, jurusan psikologi itu untuk memasuki dunia entrepreneurship. Berhenti dari Farindo pada 2004, Ananda berguru ke Kuala Lumpur, Malaysia. Ia magang selama tujuh bulan di Golden Screen. Jaringan bioskop tersebut merupakan yang terbesar di Malaysia, dengan pangsa penonton mencapai 50%. Salah satu jaringannya memiliki 18 layar bioskop sekaligus. "Di sana, saya belajar mulai dari membuat popcorn, memasang dan menyambung film, hingga menjadi asisten manajer yang mengelola bioskop sehari-hari," ujarnya. Berbekal pengalaman tersebut, ia menawarkan konsep bioskopnya ke investor dan berhasil mendapat $15 juta dari lembaga investasi Quvat. Maka, berdirilah jaringan perdana di Parijs van Java pada akhir 2006. Menyusul kemudian bioskop di Grand Indonesia pada awal 2007 dan di Pacific Place setahun berselang.
Yang menarik dari Blitz adalah nuansa entrepreneurship-nya yang kuat. Ia senantiasa mencari dan menawarkan sesuatu yang baru. Misalnya, tempat itu menyediakan diri sebagai tempat peluncuran produk baru dari perusahaan-perusahaan. Semua studio juga disewakan. Biasanya, perusahaan melakukan acara nonton bareng film yang berkaitan dengan mereka. Pernah, Blitz digunakan untuk acara kumpul-kumpul akbar para blogger. Dengan banyaknya acara yang menarik perhatian digelar di sana, nama Blitz ikut terdongkrak.
Kini, mantan bankir Citibank itu mulai bisa berbangga diri. Hanya dua tahun setelah berdiri, Blitzmegaplex mampu meraup 47%-54% pangsa penonton Bandung. Menurut prediksi, bioskop itu akan mampu balik modal hanya dalam tiga tahun (biasanya dibutuhkan 5-6 tahun). Karena itu, Blitz Bandung kini menjadi benchmark bagi pengembangan bioskop-bioskop lain dalam jaringan tersebut. Menurut Ananda, hanya bermodal dua bioskop (Parijs van Java di Bandung dan Grand Indonesia), Blitz mampu meraup 2,5 juta pengunjung tahun lalu.
Kini, ambisi Ananda adalah mendirikan semakin banyak bioskop. Lima kota berada dalam lirikannya: Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. "Jumlah penonton di kelima kota itu merepresentasikan 75% dari keseluruhan penonton bioskop di Indonesia," katanya. Di Ibu Kota, ia akan mendirikan bioskop baru di Kelapa Gading, Bumi Serpong Damai (BSD), dan Central Park. Di Surabaya, ia mengincar lokasi di Ciputra Mall. Kita tunggu inovasi selanjutnya dari Blitz. Juga, reaksi lebih lanjut dari Kelompok 21 ketika pesaing kecil itu mulai melebarkan sayap.
Parlidungan Sibuea (BusinessWeek Indonesia, 2-9 Juli 2008)
|