|
Membidik Ceruk Usaha Keterampilan
Rohman (40) dulu adalah karyawan biasa di perusahaan garmen. Dari sanalah, ia melihat peluang besar untuk membuka pelatihan menjahit UKM (Usaha Karya Mandiri) yang banyak mencetak tenaga penjahit profesional di Batam.
Sejak tahun 1989 Rohman sudah terjun bekerja di perusahaan garmen. Saking lamanya di dunia garmen, Rohman menjadi tahu betul tenaga seperti apa yang dibutuhkan perusahaan garmen. Ia pun tergerak membuka pelatihan menjahit UKM (Usaha Karya Mandiri) di Perumahan Bida Asri Blok A1 No 32(Depan Kawasan Industri Tunas Batam Centre). Memberi pelatihan menjahit, dari sisi pekerjaan lebih enak. Enaknya tidak diatur oleh atasan di perusa- sahaan, juga tidak repot seperti usaha tailor. Usaha pelatihan men- jahit cukup mempertahankan kualitas lulusan saja.
Saya buka pelatihan menjahit tahun 2007 karena niatnya ingin membantu orang Batam yang nganggur. Waktu itu tenaga penjahit yang dibutuhkan perusahan banyak direkrut dari Jawa. Di Batam tidak ada tenaga penjahit dengan kemampuan standar perusahaan garmen, ujar Rohman.
Saat merintis usahanya, Rohman hanya membutuhkan modal Rp1 juta untuk sewa tempat. Sementara mesin jahitnya ia menyewanya dari seorang teman bernama Zulfikar (37) yang memang punya usaha khusus persewaan mesin jahit. Satu mesin jahit jarum ia menyewanya dengan biaya Rp150 per bulan, mesin jahit obras disewa dengan biaya Rp300 per bulan, dan mesin jahit tawang disewa dengan biaya Rp400 per bulan. Saat pertama kali buka adalah saat-saat yang kurang menguntungkan bagi Rohman. Waktu itu hanya 4 orang saja yang mendaftar dengan biaya pelatihan sebesar Rp300 ribu per bulan. Jadilah kalau dihitung pemasukan Rohman dari pelatihan menjahit dalam satu bulan itu cuma Rp1,2 juta. Padahal Rohman harus tetap membayar biaya operasional yaitu sewa tempat Rp1 juta, uang listrik Rp300 ribu, sewa mesin jahit dan kain dan jarum Rp100 ribu. Bulan-bulan pertama saya banyak nombok, kata pria asal Semarang.
Keadaan sulit itu tak berlangsung lama, beberapa bulan kemudian muridnya semakin banyak. Setiap bulan ada sekitar 30 orang murid silih berganti mengikuti pelatihan menjahit di tempatnya. Mereka yang datang sebagian besar belum bekerja alias nganggur dan ingin bekerja di perusahaan garmen di Batam. Tak jarang, beberapa peser- ta pelatihan menjahit ada yang kabur tak bayar biaya pelatihan setelah bisa menjahit. Di sini memang sangat toleransi, bayar biaya pelatihan menjahitnya boleh belakangan. Bahkan pernah ada yang bayar setelah diterima kerja di perusahaan garmen, ujarnya.
Materi yang diajarkan terkait dengan skill yang dibutuhkan per- usahaan garmen. Di mulai dari tahap 1 pengendalian mesin (jahit tanpa benang, masang benang + sekoci, jahit lurus tik tok, jahit setengah lingkaran, jahit melingkar, dan jahit stick rapi). Usai itu masuk tahap 2 pasang kantong (jahit kantong tempel, kantong jaket, kantong bulat), tahap III jahit plaket (klep), tahap IV kantong bobok, tahap V pasang kerah oblong V, krah sport hem, krah sambung, tahap VI pasang risleting rok, celana dan jaket) terakhir tahap VII proses pakaian langsung jadi (jahit rok sampai jadi, jahit kemeja sport hem sampai jadi, jahit kemeja biasa, jahit celana kulot sampai jadi, jahit celana panjang sampai jadi).
Dengan materi detail, banyak lulusan yang langsung diterima kerja di berbagai perusahaan garmen seperti di Ghimli, BBA Citra Buana 3, Wiarmrch, BBA di kawasan Cammo dan lainnya. Kini, bahkan beberapa perusahaan suka mengonteknya ketika membutuhkan tenaga penjahit. Sekarang perusahaan garmen tidak lagi merekrut tenaga penjahit dari Jawa, di Batam sudah banyak tenaga penjahit yang berkualitas standar perusahaan, katanya.
Muridnya semakin banyak saat terjadi PHK oleh perusahaan elektronik karena krisis global di awal tahun 2008. Banyak korban PHK perusahaan elektronik beralih pekerjaan ke perusahaan garmen. Mereka jadi ramai-ramai mengikuti pelatihan menjahit, Awal bulan 2008 lalu, peserta pelatihan menjahit di sini sampai 60 orang per bulan, ujarnya.
Pendapatan dari usaha pelatihan menjahit memang sangat tergantung jumlah murid. Semakin banyak murid, maka omset yang bisa masuk kantongpun semakin besar. Jika murid sebanyak 30 orang maka omset bisa Rp9 juta per bulan. Adapun bila murid 60 orang maka bisa Rp18 juta per bulan.
Meski demikian, usaha yang dirintis dengan modal sewa Rp1 juta itu, kini sudah beranak pinak. Rohman sudah punya mesin jahit sendiri sebanyak 15 buah aneka mesin jahit yang Ia beli dengan harga Rp1,5 juta untuk mesin jahit tusuk seken sampai Rp7,5 juta untuk mesin jahit tawang seken.
Rohman juga membuka cabang Pelatihan Menjahit Usaha Karya Mandiri di Perumahan Pesona Asri dan juga Bengkong. Rohman juga bertekad akan terus berkomitmen menjaga kualitas lulusan yang dihasilkan. Untuk menjaganya ia pun sampai terjun sendiri menjadi instruktur.
Instrukturnya kita sendiri, supaya tidak tinggi biaya operasionalnnya. Imbasnya biaya pelatihan menjahit tetap murah cuma Rp300 ribu sama sejak pertama kali buka di tahun 2007,kata Rohman. (Sumber : Batam Pos)
|