|
Memang, kreativitas bisa menelurkan kesuksesan yang mengejutkan dan
menakjubkan. Sekitar tahun 1989 perfilman Indonesia tengah menggelepar.
Untunglah, dedengkot perfilman sekaliber Raam Punjabi tidak panik.
Ia segera berlabuh ke dunia sinetron, tontonan baru saat itu.
Kebetulan, dunia pertelevisian kedatangan stasiun televisi swasta
pertama, yaitu RCTI. Berkat kreativitas, Raam Punjabi tetap survive
dengan sinetron komedinya Gara-gara yang dibintangi Lydia Kandou dan
Jimmy Gideon. Hadirnya Museum Rekor Indonesia (MURI) dan buku
Kelirumologi juga karena alasan yang sama, yakni kreativitas.
Nah, di mana letak urgensi kreativitas dalam bisnis praktis?
Tengoklah, kini pasar tengah bergeser menuju zona ketidakpastian. Juga
zona hiperkompetitif. Ironisnya, sebagian pelaku bisnis masih
bersenjatakan strategi yang itu-itu saja. Kalau mentok,
buntut-buntutnya anggaran promosi yang dihambur-hamburkan, bahkan harga
yang dibanting! Ngawur kan? Untuk itulah, dibutuhkan kreativitas!
Tidak harus aneh-aneh. Dengan pendekatan yang sederhana juga boleh.
Ada seorang pria yang sejak belia sudah tergila-gila dengan
komputer. Bayangkan saja, di usia 15 tahun ia telah memreteli
komponen-komponen komputer. Ia pernah kuliah di University of Texas,
Austin, dengan harapan kelak menjadi doktor. Namun kemudian ia memilih
drop out.
Alih-alih meneruskan studinya, ia malah merintis bisnisnya sendiri
di usia 19 tahun. Bermodalkan uang seribu dolar, entrepreneur muda ini
coba-coba menggarap PC Limited Edition pada tahun 1984, yang merupakan
pengembangan hardware yang digunakan IBM.
Dia pun mulai menjajakan produk itu kepada orang-orang. Setelah
sekian lama menjajakan, barulah ia sadar bahwa ia harus menjual secara
langsung kepada konsumen (direct marketing). Dengan demikian,
diharapkan ia dapat memetakan sejelas-jelasnya keinginan dan kebutuhan
konsumen. Sekaligus, menekan biaya tentunya. Meski sederhana, tetapi
ini boleh disebut terobosan yang amat kreatif. Karena perusahaan
komputer yang sudah-sudah, selalu mengandalkan perantara dalam
aktivitas penjualannya.
Tahun 1985, ia mengotorkan tangannya sendiri dengan turun langsung
merancang dan membikin komputer perdananya yang diberi nama Turbo PC di
Zimbabwe. Dia menempelkan chip Intel 8018 yang berkecepatan 8 MHz.
Rupa-rupanya banyak konsumen yang kesemsem, lantaran produknya bisa
customized dan harganya relatif murah. Tidak tanggung-tanggung, ia
langsung membukukan penjualan lebih dari 73 juta dolar AS.
Ekspansi bisnis pun ia aktifkan, tepatnya ke Inggris pada tahun
1987 dan berdirilah perusahaannya pada tahun 1988. Pada waktu yang
sama, nilai IPO perusahaannya mencapai 80 dolar dolar AS. Pada tahun
2006, perusahaan pun diagungkan sebagai perusahaan komputer terbesar di
dunia -setelah HP. Ia sendiri menjadi orang terkaya ke-4 di Amerika.
Perusahaan itu adalah Dell Inc dan orang itu adalah Michael Dell. Jelas
sudah, semua kemilau itu berawal dari secercah kreativitas yang
sederhana.
Bagi saya, terobosan itu tidak selalu identik dengan pemborosan.
Setidaknya, itu terlihat jernih pada Dell Inc. Di tanah air, Kalbe
Farma dan Matari Advertising juga telah berulang kali menunjukkannya.
Sedikit berbeda dengan mahaguru pemasaran Philip Kotler. Melalui
sebuah teleconference di Singapura, saya dengar sendiri pengakuan pakar
pemasaran nomor satu di dunia, Philip Kotler, Saya memoles kreativitas
dengan menikmati karya-karya seni. Nah, Anda bagaimana?
Ippho adalah produser Andalus, pembicara seminar, dan penulis 7
buku. Dua buku terbarunya adalah WOW! bersama Tantowi Yahya dan 10
Jurus Terlarang! Untuk konsultasi gratis, SMS penulis 0812-704-9090.
|