|
Leonardo da Vinci, yang dilahirkan pada 15 April 1452 di Vinci, dekat
Florence, Italia adalah salah satu tokoh hebat dalam sejarah. Dia
adalah sang generalis sejati.
Kendati sepanjang hayatnya ia tidak pernah bersekolah, namun
segenap umat manusia di sepanjang zaman dengan teguh mengagung-agungkan
dirinya sebagai tokoh Renaissance dan sosok paling jenius sejagat, yang
kejeniusannya menyentuh beragam bidang, seperti mekanika, arsitektur,
biologi, dan seni. Betul-betul generalis. Bukan itu saja,
ciptaan-ciptaannya juga dianggap mendahului zamannya. Tetapi anehnya,
ciptaan-ciptaannya tidak pernah diterbitkan semasa hidupnya.
Inilah ceritanya. Dilatih oleh pelukis yang disegani Andrea del
Verrocchio (1435-1448) pada usia 8 tahun, ia menjadi pelukis di gedung
wakil rakyat Lorenzo di Medici (1445-1492) di Florence pada usia 25
tahun. Selanjutnya dia hijrah ke Milan, di mana ia memahat patung orang
berkuda untuk Ludovico Sforza, yang selesai tahun 1493 dan pada masa
itu dianggap sebagai patung paling dahsyat di dunia. Sayangnya, patung
tersebut diluluh-lantakkan tahun 1500 tatkala Perancis menaklukkan
Sforza.
Lebih dari sekadar pelukis dan pematung berbakat, Leonardo juga
merupakan seorang ilmuwan dan penemu yang visioner. Pernah ia membeli
burung-burung dari pedagang burung hanya untuk dilepaskan dari kurungan
dan dibebaskan untuk terbang. Tujuannya? Agar ia dapat mempelajari cara
terbang burung. Setelah itu, bergegaslah ia mendesain parasut dan
helikopter.
Dia juga menganalisa mekanisme tubuh manusia dan memetakan otot,
tulang, dan organ tubuh manusia. Tidak cukup sampai di situ. Dia
merancang pula sistem pernapasan dalam air, motor hidrolik, dan kapal
selam. Masih ada lagi. Dia menulis tentang geologi, dinamika
sungai-sungai, dan sistem pengendali banjir modern.
Kalau saja ada daftar sepuluh tokoh paling berbakat, sudah barang
tentu Leonardo bertengger di posisi puncak melampaui sembilan tokoh
lainnya. Bakat dan karyanya di sejumlah aspek betul-betul memukau nalar
segenap umat manusia di sepanjang zaman. Tetapi, kalau bakat dan
karyanya diukur pengaruhnya terhadap sejarah, tampaknya itu
dilebih-lebihkan.
Memang, dia menorehkan sketsa tentang penemuan-penemuan modern,
semisal helikopter dan kapal selam. Melihat itu, orang-orang di
zamannya bisa menganga mulutnya dan membatin hatinya, Ya Tuhan, benda
apa itu? Boleh dikatakan, sketsa itu membuktikan kejeniusan dan
orisinalitas dirinya.
Namun, itu sedikit saja pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan. Sebabnya? Pertama, Leonardo tidak membuat model konkrit
penemuan-penemuan itu. Kedua, meskipun ide-idenya amat cemerlang, ia
tak menunjukkan bahwa ide-ide itu dapat terlaksana.
Leonardo punya kebiasaan jelek yang mungkin tidak bisa diterima
oleh orang-orang semodern dan sefokus Bill Gates dan Michael Dell.
Leonardo memulai sesuatu proyek dengan ambisi yang meluap-luap, tetapi
dia tak pernah merampungkan sebagaimana mestinya.
Peningggalannya terdiri dari sejumlah catatan, seperangkat sketsa,
dan beberapa lukisan yang menakjubkan (tak sampai 25 yang masih
tinggal), yang bisa memaksa orang abad ke-20 terbelalak matanya atas
kejeniusannya.
Namun walau bagaimanapun, pencapaiannya baik sebagai penemu,
ilmuwan, maupun seniman, dilampaui oleh para spesialis yang jelas-jelas
mengkhususkan diri, layaknya penemu Thomas Alva Edison, ilmuwan Isaac
Newton, serta seniman Raphael. Hikmahnya, jadilah spesialis! Generalis
itu sangatlah rentan ditelikung oleh spesialis-spesialis. Apalagi di
zaman hiperkompetitif seperti sekarang. ***
Ippho Santosa adalah produser Andalus,
pembicara seminar, dan penulis 7 buku.
Arsip Fresh Marketing
|