Seorang istri memarahi suaminya, Harry, yang gemar berjudi. Namun, Harry tidak terima dirinya dipersalahkan.
Walau bagaimanapun, toh, saya tetap menunaikan kewajiban saya sebagai ayah, Harry membela diri.
Apa buktinya? tukas istrinya.
Saya tetap mendidik anak, sahut Harry. Untuk memperkuat
argumennya, maka ia pun memanggil anaknya yang masih berusia tiga
tahun.
Nak, ayah kan sudah mengajarkan kamu berhitung. Masih ingat? tanya Harry.
Setelah anaknya mengangguk, kemudian Harry mengajukan sebuah pertanyaan, Sesudah angka tujuh, angka berapa, ya?
Delapan! seru anaknya bersemangat.
Sesudah angka delapan? tanya Harry lagi.
Sembilan! seru anaknya dengan tetap bersemangat.
Harry tersenyum. Ia bangga sekali akan jawaban-jawabannya anaknya
yang begitu tepat dan begitu percaya diri. Menurutnya, ia sudah
berhasil mendidik anaknya, tidak seperti persangkaan istrinya.
Sesudah angka sembilan? kembali Harry bertanya.
Sepuluh! teriak anaknya.
Sesudah angka sepuluh? lagi-lagi Harry bertanya.
Jack! teriak anaknya dengan lantangnya.
Mendengar jawaban anaknya yang terakhir, istri Harry langsung terperanjat.
Begitulah anak kecil. Mudah sekali untuk diarahkan dan dibelokkan.
Ibaratnya, kapal besar dan kapal kecil. Ketika sedang melaju, kira-kira
kapal mana yang lebih gampang untuk berubah arah atau berbelok? Ah,
rasanya tidak diperlukan gelar MBA hanya untuk mengetahui jawabannya.
Yah, karena semua orang maklum, kapal kecil akan jauh lebih mudah untuk
berubah arah atau berbelok.
Bisnis juga seperti itu. Saya pribadi sangat enjoy ketika bisnis
saya masih terhitung kecil. Alasannya, saya berkesempatan untuk
menjejalkan dan menjajal ide-ide liar saya. Saya juga bisa menyuntik
improvisasi di sana-sini. Tentu saja, dengan segera! Dan perkara serupa
menjadi mustahil seandainya bisnis saya sudah menggurita.
Saya tahu persis bahwa Anda atau siapapun pastilah mengidam-idamkan
merek yang kuat dan bisnis yang besar. Sama, saya pun begitu. Tetapi,
adakah yang salah dengan bisnis yang masih kecil? Ternyata bisnis kecil
itu menyimpan kenikmatan tersendiri, yang jarang sekali diendus oleh
kebanyakan marketer. Segeranya perubahan, itulah manfaat yang pertama.
Sedangkan tidak kelihatannya dosa-dosa menjadi manfaat yang
kedua. Coba bayangkan seorang presiden yang berbuat salah. Pastilah
rakyat satu negara akan mengetahui dan menghujatnya. Tetapi, bagaimana
dengan kesalahan seorang ketua RT? Hanya segelintir yang peduli dan
segelintir pula yang meminta pertanggung-jawaban. Iya kan?
Tidak jauh berbeda dengan landskap bisnis. Begitu merek Anda
meraksasa, maka otomatis publik akan menyoroti, bahkan publik merasa
memiliki merek Anda. Jadi, agak sukar bagi masyarakat untuk toleran
sekiranya merek-merek sekaliber Bank Mandiri, Astra, dan Podomoro
melakoni kesilapan. Sedangkan merek kemarin sore? Ah, masa bodo!
Maka, tidak muluk-muluk rasanya apabila ungkapan small is beautiful
jamak dijumpai di mana-mana. Namun demikian, jangan salah kaprah, ya!
Ini semua kudu diiringi dengan upaya-upaya untuk menjadi besar.
Sebab itulah, sepanjang hayat saya tidak pernah sreg dengan istilah
UKM alias Usaha Kecil dan Menengah. Kecil sih boleh, tetapi jangan mau
dicap begitu. Kecil seumur-umur, baru tahu rasa! Cukuplah istilah UKM
itu berputar di kalangan perbankan dan pemerintahan saja. Bilamana
bisnis Anda masih kecil, sebut saja BBB alias Bisnis Bakal Besar atau
Be a Big Brand. Nah, itu kan lebih memotivasi.
Ippho adalah penulis 7 buku bisnis, pembicara seminar, produser
Andalus, dan co-founder Entrepreneur Association (EA). Buku terbarunya
adalah 10 Jurus Terlarang! ***