"Sebaik-baiknya bisnis adalah yang dibuka,
bukan ditanyakan terus"

Home arrow Success Story arrow Jual Ikan dengan Pesawat Cessna

Jual Ikan dengan Pesawat Cessna PDF Cetak E-mail
(8 votes)
Penilaian Pengguna: / 8
BurukTerbaik 

LAUT kita kaya raya. Sungguh itu bukan isapan jempol belaka. Susi Pudjiastuti, juragan ikan asal Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, sudah membuktikannya.

Saking kewalahan memenuhi pasar, Susi sampai-sampai perlu membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan buatan Amerika Serikat. Pesawat yang mulai beroperasi Desember 2004 ini untuk membawa ikan, lobster, dan hasil laut lainnya langsung dari nelayan di kawasan selatan Pulau Jawa.

Menurut rencana, satu pesawat akan digunakan mengangkut hasil nelayan ke pabrik pemrosesan dan pengepakan di Pangandaran. Sedang satu lagi menerbangkannya ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Selanjutnya dikirim ke negara-negara tujuan seperi Asia, Eropa, dan Jepang serta Australia. "Sekarang ekspor hasil laut tidak lagi terkendala oleh lamanya waktu pengangkutan melalui kontainer," kata Susi.

Susi mengaku membeli pesawat untuk mengimbangi volume ekspor perusahaannya yang terus meningkat. Saat ini setiap bulan perusahaannya mampu menjual hasil laut ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika, antara 50-60 ton. Bahkan sejak merebaknya isu daging sapi gila dan flu burung di dunia terutama di Asia, ekspor udang dan ikan naik sampai 80 ton per bulan.

Pengoperasian pesawat itu diharapkan meningkatkan omzet PT ASI Pudjiastuti dari US$ 2 juta menjadi US$5 juta pertahun. Menurut ibu tiga anak ini, kalau ikan dan udang segar sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, maka perbedaan harganya bisa 50%. Misalnya, ikan laut yang biasanya US$ 3 per kilogram, kalau tiba kurang dari sehari semalam, harganya bisa menjadi US$ 8 per kilogram.

Tentu itu akan membuat Susi terus berkibar. Dalam lima tahun mendatang dia berencana membeli delapan buah lagi pesawat caravan. Lima pesawat rencananya akan dioperasikan di pulau Jawa, dua pesawat di Sumatera, tiga pesawat di Indonesia Bagian Timur. Bahkan Susi juga sudah berencana membeli kapal feri eks Belgia yang akan dijadikan pabrik terapung.

Pabrik tersebut dirancang mengolah hasil laut dari pulau sekitarnya dan langsung diekspor ke Darwin, Australia. "Kita dianugerahi hasil laut yang luar biasa, tinggal bagaimana kita mengelolanya," kata Susi. 

Susi tak asal omong. Tiap hari, berton-ton hasil laut diolah di pabriknya. Sekitar 95% hasil produksinya diekspor ke Hong Kong, Jepang, dan beberapa negara Eropa. Komoditas utamanya lobster, udang, kakap, dan tuna.


Dia memang kenyang pengalaman. Sejak kecil dia memang tinggal di Pangandaran. Baru saat SMA dia bersekolah di Yogyakarta. Itu pun tak sampai tamat. Ia malah ingin mandiri. Berbekal uang Rp 750 hasil tabungannya, tahun 1983 Susi mulai berusaha menjadi pengepul ikan. "Mula-mula saya baru sanggup beli 1 kg, tapi makin hari makin bertambah," kata Susi. Perjalanan hidup kemudian mengantarnya ke Cirebon dan Sumatera.


Pengalaman bertahun-tahun menjadi pengepul ikan membuat Susi kesal dengan pabrik yang suka memainkan harga. Dia lalu bertekad mengekspor sendiri hasil lautnya. Tahun 1996 ia kemudian mendirikan PT ASI Pudjiastuti.


Diatas tanah dua hektar warisan orang tuanya, Susi membangun pabrik pengolahan ikan. Hasil produksinya disukai karena pabriknya ramah lingkungan. Dia sama sekali tak menggunakan bahan pengawet. "Dari segi rasa dan kesehatan hasilnya lebih oke," kata Susi.


Pabriknya juga menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan. Untuk pendingin, misalnya, dia memilih menggunakan amoniak ketimbang freon yang bisa merusak ozon. Selain itu, pabriknya juga tak menghasilkan limbah. "Semua sampah disini bisa dimanfaatkan kembali. Kulit udang atau ikan bisa dijadikan pakan ternak," kata Susi.


Saat krisis ekonomi melanda, Susi malah makin berjaya. Maklum, hasil produknya dibayar dengan dolar. Maka dia bisa membangun pabrik kedua seharga Rp 35 milyar. Kapasitas pabrik ini setiap harinya bisa memproses dan menyimpan stok ikan maupun udang sampai 15 hingga 20 ton per hari. Teknologi yang digunakan semuanya termodern. Sehingga bisa disebut pabriknya ini merupakan perusahaan perikanan termodern di Indonesia.


Teknologi baru yang digunakan antara lain, tujuh myocon 700 Hp. Lalu, ice flate kapasitas 13 ton per hari, contact plate dari Denmark dengan kapasitas 450 kg per jam, blast freezer kapasitas 1.000 kg per tiga jam. Adventec tunbel untuk 500 kg per jam dari Swedia, water chiller, AC centralized seluruh ruangan anteroom, dan lainnya. Semuanya untuk memproses agar ikan, udang, dan lobster yang akan dikirim ke luar tetap segar. Selain itu, waktu proses pengolahan juga makin cepat.


Boleh jadi, kunci sukses yang dicapainya itu berkat kesadaran bahwa apa yang didapatnya itu adalah amanah. "Karena itu, meski ini bisnis, saya selalu berusaha tak pernah melupakan kepedulian sosial," katanya.


Susi tidak serakah meraup untung. Misalnya, ikan kakap. Ikan itu diambil dagingnya saja untuk dijadikan fillet. Kepalanya yang masih banyak daging itu dijualnya ke penduduk sekitar dengan harga hanya Rp 750 perkilo. Padahal, bisa saja kepala ikan itu dijual ke restoran di Jakarta dengan harga 10 kali lipat.


Susi mengaku tak keberatan membagi pengalamannya kepada nelayan lain. Namun dia mematok persyaratan ketat. "Saya hanya akan mengeksplorasi hasil laut yang berwawasan lingkungan," katanya. Bahkan kepada pemerintah daerah sekalipun. Dia, misalnya, sempat menjalin kerja sama dengan Pemerintah Maluku Tenggara Barat untuk mengembangkan hasil laut di sana. "Perairan Maluku itu luar biasa. Seperti kolam ikan saja," ceritanya.


Menurutnya, sudah saatnya pemerintah lebih serius menggarap kelautan. Misalnya dengan memberi bantuan pembelian kapal dan kelengkapan alat tangkap bagi para nelayan. Selain itu, pemerintah juga mesti membangun pelabuhan besar yang bisa menarik kapal agar bisa berlabuh. Dengan demikian akan memberikan kontribusi besar buat pembangunan daerah. Baik dari retribusi lelang ikan maupun banyaknya kapal yang masuk ke pelabuhan.


Laut kita memang bisa membuat orang kaya raya.

feed2 Komentar
yuheni
May 04, 2008
125.163.3.245
Nilai: +0

Mau nanya kalau mau beli ikan harus kemana? ikan ini untuk dijual lagi apakah harganya dibedakan tidak?. Mkasih

report abuse
vote down
vote up
M.Fauzi
December 21, 2008
114.58.75.62
Nilai: +0

ass.
yth ibu susi,

sy ingin bergabung dengan perusahan anda,
sy siap memasok hasil laut dari perahuku.
berbagai jenis ikan,lobster,cumi dan hasil laut lainya,dalam jumlah besar.
mohon blsanya..

wass.

report abuse
vote down
vote up

Tulis Komentar
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
kolom kecil | kolom besar
 

security image
Isikan karakter security


busy
 
 



INSPIRASI BISNIS

"Pengusaha HaRuS BERANI membuat kePUTUSan u/ menyelamatkan KAPALnya!" Jaya Setiabudi


 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini544
mod_vvisit_counterKemaren842
mod_vvisit_counterMinggu ini2183
mod_vvisit_counterBulan ini5270
mod_vvisit_counterTotal38757

YEA Indonesia


 

Agenda Acara

« < January 2009 > »
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
« < February 2009 > »
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28

Komentar Terbaru

Bersaing dengan stud...
Tuh khan semua bermula dari yang kecil baru jadi B...
DEMI ORANG TUAKU, AK...
thanks bgt mas Apapun yang terjadi tetap eksis di ...
Menjadi Manusia Yang...
It's true, but really difficult to make it real. P...
Standard Operating P...
Thanks yah... kepake banget nih... btw... ada 9 un...
Ide Bisnis: Dari Man...
ide eksekusi = inlah salah satu hal yg membuat p...

Statistik USER

Total Member : 812
Member Terbaru : prasetyawan
Member Online : 0
Hari ini : 4 Terdaftar
Minggu ini : 15 Terdaftar
Bulan ini : 38 Terdaftar

Pengunjung Online

Saat ini ada 11 tamu online

Anggota Online

Tidak ada Anggota Online