|
Untuk saat ini, pemanfaatan tertinggi batu kali hanya sebagai fondasi
bangunan. Namun Dino bisa mengangkat nilai ekonomis batu kali dengan
mengubahnya menjadi benda seni. Wiyono.
Sebutir kerikil bagi orang lain mungkin tidak berarti banyak. Tidak
demikian bagi Syarifuddin Anwar atau kerap di sapa Dino. Berbekal
peralatan sederhana seperti pisau cutter, obeng kaca mata, peniti,
ditambah imaginasi, batu koral seukuran genggaman tangan itu kemudian
dapat disulap menjadi benda kerajinan yang unik dan bernilai seni.
Bentuknya dapat bermacam-macam sesuai kehendak atau pun menurut
pesanan. Di rumahnya, kawasan Cilandak Barat-Jakarta Selatan, yang
sekaligus merangkap sebagai workshop dan galeri dipajang berbagai model
hasil ketrampilan tangan bapak dua orang putri ini, di antaranya
berbagai bentuk bandul kalung, patung wajah, miniatur sepeda motor
besar, ular naga, dan sebagainya. Usahanya yang dinamakan Sanggar Batu
Kerik itu telah dirintis sejak tahun 1995 dan menghasilkan produk
hingga ratusan item. Dinamakan Batu Kerik karena proses pembuatannya
dengan cara dikerik (dikikis-red), jelasnya.
Diakui, ide kreatif tersebut sebenarnya bukan murni diciptakan oleh
Dino sendiri. Pada awalnya penggemar olah raga berpetualang itu
mempelajari keahlian itu dari seorang temannya. Kebetulan ia sering
berada di alam bebas dan tangannya kreatif, jadi iseng-iseng membuat
benda seni. Ketrampilan itu kemudian tertular kepada teman-teman
lainnya termasuk saya, tuturnya.
Bahan utama berupa batu kali biasa, namun Dino
mengaku hingga saat ini ia masih mendatangkan batuan dari Brebes. Hal
ini tidak lepas dari kisah awal saat ia hendak merintis usaha.
Fotografer profesional ini kebetulan memperoleh tender proyek foto
udara di wilayah Brebes dan menjumpai jenis batu kali di tempat itu
sifatnya lebih empuk sehingga lebih mudah dibentuk.
Tetapi menurut Dino, perajin tidak bisa sembarangan memilih jenis
bahan baku. Sebab apabila memakai batu yang terlalu lunak, akibatnya
hasil barang setelah jadi juga akan lebih rapuh. Maka sebelum dibuat
menjadi barang kerajinan, batu kali perlu diseleksi terlebih dahulu.
Bahan baku yang yang bagus yaitu batu dengan tingkat kekerasan sedang
hingga yang paling keras. Dari empat kelas, kita pakai bahan tingkat
ke-1 atau ke-2, kualitas ke-3 dan ke-4 jarang, paling untuk membuat
bentuk-bentuk kerajinan kecil semisal bandul atau gantungan kunci, ia
sedikit membuka rahasia.
Dijelaskan, apabila bahan yang diperlukan sudah diperoleh, proses
selanjutnya membuat sket dasar dengan menggoreskan mata pisau untuk
membuat bentuk kasar. Lalu untuk detilnya yang yang dikerjakan adalah
bagian yang paling sulit dahulu dengan cara dikerik semakin dalam
hingga jadi. Proses finishing cukup dengan cara digosok dan dibersihkan
debu-debunnya, dan kalau diperlukan juga sekalian dibuatkan dudukannya
yang berfungsi sebagai pemberat bagi patung tersebut.
Untuk mengerjakan setiap pesanan waktu yang dibutuhkan amat
bervariasi tergantung pada kerumitan desain atau detilnya. Sebagai
contoh, sebuah miniatur motor kecil yang sangat detil sampai pada wujud
mesin dan sebagainya Dino membutuhkan tempo 1-2 bulan. Tetapi untuk
patung-patung yang lebih sederhana cukup memerlukan waktu 1-2 minggu
selesai. Sedangkan bandul kalung, pin atau logo-logo perusahaan, serta
bentuk bentuk kecil yang standar lainnya tidak sampai memakan waktu
lama. Dalam sehari ia dapat menyelesaikan sampai 10 buah. Sehingga
harga barangnya pun sangat relatif, dipengaruhi oleh tingkat kesulitan
detil serta kualitas bahannya. Sedangkan besar-kecilnya justru kurang
berpengaruh. Harga sebuah bandul berkisar Rp 20 ribu-Rp 80 ribu,
sementara patung bisa mencapai Rp 100 ribu-Rp 3 juta. Kecuali bagi
pemesanan dalam jumlah besar maka Dino dapat memberikan harga di bawah
Rp 20 ribu.
Saat ini pria berpendidikan komputer dan ekonomi ini dibantu 6
orang teman yang bergabung di sanggarnya. Total biaya investasi yang
dikeluarkan terhitung kecil, di bawah Rp 5 juta. Dalam sebulan mereka
dapat menyelesaikan sekitar 180 buah bandul dan kurang lebih 18 buah
patung. Namun Dino mengakui, pemasaran batu kerik masih terbatas.
Konsumen kebanyakan pembeli lokal, biasanya untuk dijadikan souvenir
atau dijual. Salah satu konsumen kerajinan ini adalah kalangan
penggemar motor besar yang mengoleksi batu kerik berbentuk miniatur
motor. Namun tidak tertutup kemungkinan dipasarkan ke berbagai
perusahaan dalam bentuk logo atau sebagai cenderamata.
Untuk sementara pembeli baru kenal lewat mulut ke mulut, namun
ada juga beberapa item barang yang dititipkan di pusat kerajinan di
pusat-pusat perbelanjaan, ujar Dino yang mengaku masih mengalami
kendala utama segi permodalan. Cara lainnya ditempuh melalui bantuan
tenaga pemasaran secara freelance, biasanya dengan sistem bagi hasil,
5%-10% dari nilai nominal untuk penjual. Meskipun kurang dikenalnya
kerajinan batu kerik terbentur minimnya promosi tetapi Dino tetap
optimistis prospek usaha yang dirintisnya ini ke depan akan berjalan
bagus. Sebab selain harganya terjangkau, ia memiliki ciri khas dan
keunikan tersendiri. Tertarik? Silahkan mencoba!
Analisa Usaha Kerajinan Batu Kali:
Perkiraan biaya bahan dan peralatan Rp. 100.000,-
Perkiraan biaya operasional dan tenaga kerja Rp. 700.000,- +
Total modal usaha Rp 800.000,-
Dalam sebulan dapat menghasilkan 300 buah bandul @ Rp 20 ribu-Rp 80 ribu.
Penghasilan mencapai Rp 6.000.000,- sampai Rp 24.000.000,-
Disadur dari :
www.majalahpengusaha.com
|