|
Perlukah Gonta Ganti Usaha ? |
|
|
|
|
Beberapa hari yang lalu saya sedang asyik ngobrol dengan seorang
pengrajin kayu. Dia mengungkapkan keinginan untuk banting setir dari
pengrajin menjadi distributor rokok. Kebetulan dikampungnya ada pabrik
rokok yang baru berdiri. Iseng-iseng saya tanya kenapa mau banting
setir ? "Bayangkan mas, aku puluhan tahun jadi pengrajin hasilnya cuma
begini-begini saja", katanya. Sedikit bercanda saya bilang "Lho ya
jelas saja sampeyan cuma dapat segitu saja. Coba jangan jadi pengrajin
jadi pedagang saja. Kalau sampeyan jadi pengrajin misalnya dapat untung
perbarang 50 ribu. Kalau jadi pedagang sampeyan bisa untung 50 ribu x
10. Karena bisa jual lebih banyak atau kalau sampeyan masih mau jadi
pengrajin, jangan terlibat langsung. Sampeyan hanya perlu cari orang
yang pinter bikin kerajinan, sampeyan sendiri tinggal ngatur saja.
Kalau sudah begini pasti keuntungan sampeyan bakal naik berlipat-lipat"
. "Aku pingin coba jadi sales rokok saja mas", katanya lagi. "Lho
kenapa ?" tanya saya. "Saya ada kenalan dari Malang katanya dia jadi
sales rokok omsetnya sudah 3.5 M. Nggak bohong tah itu mas?" tanyanya
lagi. "Ya nggak lah, angka segitu bisa saja tercapai. Sampeyan tahu
sendiri rokok itu kan barang habis dipakai jadi berapapun diproduksi
pasti
habis. Nah untungnya lumayan lagi. Itu sih terserah sampeyan
bisnis apapun bisa jalan asalkan serius kalau sedikit-sedikit mau
banting setir ya susah. Tapi kalau memang sudah segala cara ditempuh
nggak berhasil juga ya apa boleh buat"
Seringkali pada saat ngobrol dengan pengrajin keluhan mereka sama
sudah usaha begitu lama nggak juga sukses. Masalahnya kadang mereka
juga kurang menyadari kalau yang dilakukan selama ini memang tidak
mendukung untuk mencapai kesuksesan. Paling hanya cukup untuk bertahan
hidup. Ujung-ujungnya banting setir.
Pangkal persoalannya adalah seringkali mereka mengira semuanya
harus mereka kerjakan sendiri. Seringkali juga kita lihat pemilik toko
juga ikut menjaga toko, ini sih sah-sah saja. Tapi konsekwensinya
jelas. Kegiatan sehari-hari hanya berkutat menerima pembayaran dan
memberi kembalian. Padahal peluang yang ada di luar sangat banyak. Dan
kegiatan lain yang lebih mendatangkan manfaat juga banyak. Ya kadang
sering kita lupa, maunya lepas dari menjadi karyawan ternyata menjadi
karyawan untuk dirinya sendiri. Kebebasanpun tetap terbelenggu. Kadang
bukan usahanya yang salah kan ?
Yoyok
http://www.delimabelas.com
|