Meski usia masih 35 tahun, namun sukses berbisnis telah diraih di
genggamannya. Dengan kegigihan untuk berdiri di atas kaki sendiri,
kegagalan-kegagalan yang dialaminya tak membuat ia bergeming untuk
bertekad menjadi bos di perusahaan sendiri.
Siapa menyangka jika pemuda yang dulunya dikenal sebagai anak
bandel temyata sekarang bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Betapa
tidak, ketika duduk di bangku SD, ia hampir dikeluarkan. Lalu semasa
SMP pernah disumpahi oleh salah satu gurunya bahwa dirinya tidak
mungkin menjadi orang sukses. Demikian halnya saat masuk STM, pria yang
satu ini sering cabut dari ruang kelas.
Namun, kini ia mampu membuktikan bahwa dirinya juga
memiliki kemampuan lain yang lebih besar dari sekedar prestasi akademis. Hal
ini tentu saja bukanlah keberuntungan, tapi kuatnya cita-cita dan dukungan
orangtua.
Lebih baik
kecil-kecil jadi BOZZ...
Meski belum mengetahui bagaimana cara agar dirinya
menjadi pengusaha. Namun, ia sudah bertekad untuk menjadi pengusaha. Dan
ternyata cita-cita itu mendapat dukungan dari sang ayah, Untung Setiabudi.
Pengalaman sang ayah bekerja di salah satu bank swasta dan perusahaan lain yang
menimbulkan ketidakpuasan, membuat ayahnya memberi nasehat, "Lebih baik kecil-kecil jadi
bos, daripada gedhe-gedhe jadi kuli". Pesan itulah yang memicu
semangat bahwa dirinya mampu menjadi seorang entrepreneur.
Setelah berhasil menyelesaikan studi di salah satu
institut swasta di Surabaya. Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 27 April
1973 ini segera mencari tempat untuk menimba ilmu dunia usaha. Dipilihlah salah
satu anak perusahaan Astra Group menjadi wadah baginya untuk mempelajari
sirkulasi perdagangan. Bahkan dengan pede (percaya diri), saat tes
wawancara berlangsung, Jaya Setiabudi menyatakan bahwa tujuannya bekerja
adalah mencari ilmu karena ia ingin menjadi pengusaha. Posisi yang dipilih pun
bukan engineer sesuai dengan studi yang ditempuh, namun technical
buyer.
Tak peduli jam kerja telah usai dan di saat karyawan
lain sedang tertidur pulas di rumahnya, sarjana elektro ini makin asyik bergelut
dengan pekerjaannya. Tujuannya hanya satu yakni mempelajari dan memahami dengan
benar konsep pekerjaan tersebut, salah satunya adalah purchasing order.
Meski pimpinannya tak pernah tahu dan ia tak pernah
mendapat uang lembur, dirinya terus bekerja dari hari Senin sampai Minggu tanpa
mempedulikan besarnya gaji yang diperoleh. Kondisi ini berlangsung hampir
selama 1 tahun penuh tanpa libur. Setelah dirasa puas dengan ilmu yang didapat
maka putra keenam dari tujuh bersaudara ini memutuskan untuk mengundurkan diri.
Lalu dimulailah langkahnya untuk menjejakkan kaki di dunia usaha setelah 1
tahun 4 bulan bekerja. Awal bisnisnya dibuka tepatnya di bulan Agustus 1998.
Dengan uang 4,5 juta di tangan, Jaya bersama 2 orang
rekannya, membuka Industrial Supply.
Alhamdulillah 3 bulan bangkrut, katanya. Karena kegagalan itu pula, Jaya
mengalami masa-masa sulit. Bahkan untuk makan sehari-hari, ia hanya bisa
membeli satu buah telur dari uang receh yang dulu pernah tidak disukainya. Tapi
suami dari Liana ini tetap tegar dan tak takut untuk mencoba lagi terjun
ke dunia bisnis.
Dengan minimnya modal, dirangkullah orang lain untuk
bekerjasama. Hanya dengan modal kepercayaan, Jaya membuka usaha yang serupa
untuk kedua kalinya. Dengan sistem pembayaran mundur kepada supplier, maka ia
bisa mendapat kelonggaran terhadap kondisi keuangannya. Setelah sekian waktu,
secara perlahan usaha itu mulai merangkak naik dan mulai menunjukkan hasil.
Seperti pengusaha pemula lainnya, merasa tangannya sakti, Jaya terlalu cepat
berekspansi bisnis, membuka warung makan, desain grafis, distribusi additif
(otomotif), yang akhirnya ditutup dengan kerugian yang besar. Itu semua uang
sekolah saya, katanya tanpa beban.
Di usia bisnisnya yang menginjak tahun kesepuluh,
Momentum Grup, begitu sebutan grup bisnisnya, telah membawahi beberapa
perusahaan yang semuanya profitable. Bidang usahanya antara lain, distributor
untuk produk-produk hi-tech industry,
supplier dan retail di bidang Food and
beverage dengan bendera The Farmer, agen oli (di Jakarta) dan perusahaan
training Entrepreneurship. Yang kesemuanya telah dikelola oleh tenaga-tenaga
profesional, sehingga sejak 2 tahun terakhir ini, dirinya tidak pernah lagi
mengantor. Kecuali Momentum Entrepreneur Mindset (yang membidani
Ecamp dan YEA), semuanya saya tidak pegang lagi,
imbuhnya. Sebagian besar perusahaannya berlokasi di Batam, karena disanalah
tempat yang potensial untuk arus perdagangan baik skala nasional maupun
internasional. Setelah Batam, dipilihlah Jakarta sebagai tempat kedua bagi bisnisnya.
Meski
sudah memiliki beberapa perusahaan yang omzetnya mencapai kisaran miliaran
rupiah perbulan, namun total pegawai yang dipekerjakan hanya 20an orang.
Menurut pria yang suka tidur dan nonton film ini,
rahasianya terletak pada pemilihan bisnis yang memiliki diferensiasi yang kuat dan sistem yang
handal.
We Create Partners...
Hal itu juga harus ditunjang dengan
kepemimpinan yang baik dengan motto yangdipegang, We create partners not employees (Kami
menciptakan rekan kerja bukan para pekerja). Motto itu dilaksanakan dengan
keberaniannya untuk berbagi saham perusahaan kepada para pegawainya dengan
jumlah yang disesuaikan dengan kriteria tertentu seperti integritas, loyalitas,
dan beberapa kriteria lain. Penerapan konsep tersebut membuat karyawannya ikut
memiliki perusahaan yang dinaunginya. Hasilnya perusahaan itu terus maju dan
makin berkembang. Saya memiliki partner-partner yang jauh lebih pandai dari
saya dan bisa mengembangkan perusahaan lebih baik daripada saya sendiri,
ucapnya merendah.
Meski bisnisnya makin merambah ke berbagai
bidang, tapi anehnya ayah dari Sarah Aulia Setiabudi dan Alfin Risqi Setiabudi
ini tak pernah sibuk mengurusi bisnisnya. Sebab, ia mempercayakan bisnisnya
kepada para direksi yang dijadikannya sebagai rekan. Jadi dirinya sangat
leluasa untuk bercengkrama dengan keluarga. Saat ini, sebagian besar waktunya
diabdikan untuk membagi ilmu tentang dunia bisnis, secara aktif dengan menjadi
narasumber wirausaha sejak 3 tahun terakhir ini di beberapa radio di Batam, TV
lokal dan Kolumnis di media masa, baik lokal maupun nasional. Disamping itu,
Mentor terfavorit 2008 versi Entrepreneur University ini, memiliki kesibukan
berbagi di lebih dari 30 kota se-Indonesia.
Rupanya pria yang tidak suka dengan urusan
politik ini tak puas hanya menjadi pengasuh forum pengusaha. la juga ingin
memiliki nilai tambah dari sekedar pengusaha. Dan dirinya menunjukkan bahwa ia
juga mampu membuat konsep wirausaha berdasarkan perjalanan penemuannya sendiri.
Konsep tersebut rencananya akan dirangkum dalam buku yang ditulisnya sendiri
dan akan segera launching tahun ini, dengan judul "The
Power of Kepepet" dan MOMENTUM, The 5 Elements of Entrepreneurship.
Sebagai entrepreneur, ia pun
memiliki visi yang ingin digapainya. Pertama, ingin menciptakan
sejuta pengusaha sukses. Dan yang kedua, bisa menjadi saluran rejeki bagi orang
lain. Untuk mewujudkan visi tersebut, salah satu upaya yang dilakukan
adalah membentuk Entrepreneur Association (EA). Tujuannya adalah menciptakan
pengusaha Indonesia yang bermoral dan memiliki integritas. Asosiasi ini mampu
mewadahi semua lapisan pengusaha untuk andil di dalamnya. Sistemnya melalui
pengelompokan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan yakni starting
(pemula), growing (berkembang), dan expanding (meluas).
Meski saat ini ia telah meraih impiannya
sebagai bos di perusahaan sendiri, namun Jaya tak lantas sombong dan puas
dengan hasil yang diperolehnya. Ia mengakui bahwa masih banyak kekurangan yang
ada pada dirinya. Untuk itu ia bersemboyan bahwa tak pernah ada kata untuk
berhenti belajar. Dirinya terus belajar tentang berbagai hal antara lain leadership,
pengembangan usaha, ataupun motivasi. Selain belajar dari para mentornya
seperti Bob Sadino, Purdi E. Chandra, dan Andrie Wongso. Ia juga tak segan
belajar dari teman-temannya tentang berbagai kasus yang mereka alami. Dari
proses belajar yang tiada henti itu pula, ia masih ingin terus berkarya dalam
dunia usaha. Buktinya, sekarang dirinya telah merencanakan untuk membuat
perusahaan baru yang bergerak di bidang permodalan (Momentum Capital).
Targetnya tahun ini perusahaan capital ini sudah mulai beroperasi dengan
membeli saham perusahaan lain yang menguntungkan tapi memiliki keterbatasan
dalam masalah modal.
Semua kerja keras dan kegigihan Jaya ternyata
membuahkan kemapanan finansial yang tidak diperuntukkan bagi dirinya pribadi,
tapi juga bagi keluarganya. Kendati demikian, kemapanan tersebut tak membuat
dirinya lupa masa-masa sulit yang pernah dilaluinya, "Saya
tetap menikmati masa-masa susah waktu itu. Andaikan mengalami kegagalan lagi,
saya yakin bisa bangkit kembali", ujarnya. Jangan kaget jika
kesehariannya, pria yang mengendarai Mercedes ini, hanya mengenakan t-shirt,
celana jins dan bersandal ria. Itulah seragam kebesaran saya. Malas
Jaim-jaiman, imbuhnya.
Jaya yakin bahwa perjalanannya di dunia bisnis masih belum menemukan
terminal pemberhentian. Dan ke depan, dirinya masih ingin mewujudkan obsesi yang didambanya selama ini
yakni menciptakan Entrepreneur Place yang kelak menjadi Pusat Study dan Pariwisata Entrepreneur
terbesar sedunia.
|