|
Mall adalah tempat favorit untuk membuka usaha retail. Kenapa? Karena disitulah ikan berkumpul, bak memancing di tambak. Tentu saja dengan pertimbangan keramaian yang ada di mall, biaya promosipun bisa ditekan. Konsekuensinya, biaya sewa tempat di mall relatif lebih mahal dibanding ruko atau tempat usaha lainnya.
Hanya saja dengan maraknya pembukaan mall baru, membuat pergeseran peta ikan. Ramai sepinya mall, sangat bergantung pada kecerdikan pengelola mall dalam membuat event-event ataupun pemilihan tenant yang mampu menyedot masa (anchor).
Bisa jadi, keramaian mall yang tadinya sangat menguntungkan, mendadak bisa sepi karena dibukanya mall yang baru, yang lebih menarik. Ingat bukan hanya masalah promonya yang segudang, namun bepergian di mall sudah menjadi lifestyle bagi semua kalangan. Bukan hanya ibu dan anak yang senang, bapaknya-pun bisa cuci mata di mall. Nah, kalo mallnya aja sepi, kiosnya mau promo kayak apapun, seperti memancing atau menjaring di kolam yang tak bernyawa. Tapi khan resto saya enak lho masakannya atau Pakaian yang saya jual paling murah sedunia, kata tenant mall. Yah, mau enak atau murahnya kayak apa, kalo gak ada yang lewat, gimana cara mbidiknya? Disamping itu, berbisnis di mall, sangat bergantung waktu. Seringkali, mall hanya ramai di sore hingga malam hari, atau week-end.
Pasar yang stabil
Bukannya saya menakut-nakuti Anda yang berbisnis di mall, sekali lagi tidak. Hanya saja, jika tragedi itu terjadi pada bisnis Anda, dunia masih belum kiamat. Masih banyak jalan menuju ke Roma! Bisa pindah ke mall yang ramai, atau mencari tempat yang ikannya stabil. Misalnya, membuka bisnis di seputar sekolahan, perumahan yang ramai, pasar induk, atau terminal. Jelas-jelas nggak rawan persaingan (tempatnya), betuk nggak? Mana ada anak sekolah, yang berpindah sekolah di kota yang sama? Bisa dihitung jari. Di Batam, ada pengusaha pempek palembang, yang bukanya di samping sekolah nasional plus. Sembari ibu-ibu menunggu anaknya pulang, mereka memilih nongkrong di warung pempek, yang tadinya hanya di rumah yang sempit itu. Dimana buka usaha photocopy yang rame? Ya di dekat kampus. Ingat rumusnya,Cari keramaian yang stabil, maka disitulah pasar yang bagus. Kalo ikannya banyak, yang mancing banyak-pun, tak usah khawatir. Yang perlu dikhawatirkan, jika tidak ada ikannya, yang mancing kita sendiri-pun, menghabiskan waktu.
Di sisi lain, sebagai pengelola mall, buatlah keramaian! Bisa dengan cara bekerjasama dengan event organizer (EO) yang kreatif. Kesalahan terbesar dari para pengelola mall (apalagi yang sepi), mereka terlalu arogan dan serakah terhadap para pembuat keramaian (EO). Seharusnya pengelola mall menghargai jasa pawang hujannya EO. Karena dengan keramaian, tenant mall akan hidup, sehingga berbuntut di kemampuan tenant untuk membayar sewa mall. Di sisi pemerintah, alangkah baiknya jika pembukaan mall ditertibkan, sehingga tidak terjadi kanibalisasi. Bukan kasihan yang punya mall, namun lebih kasihan tenant mall yang telanjur percaya dengan iming-iming pengelola mall.
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Director Y.E.ACoach Entrepreneur Camp
Pendiri Entrepreneur Association
Email :
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Hp : 0819 818 919
|